Kerajinan Khas Sumatera Selatan: Warisan Budaya yang Memikat

Bagikan ke
Kerajinan Khas Sumatera Selatan: Warisan Budaya yang Memikat

Kerajinan khas Sumatra Selatan. Begitu menjejak Palembang, kamu nggak cuma ketemu pempek; kamu juga bertemu kilau Songket Palembang, keceriaan Kain Jumputan, kelembutan Kain Blongsong, dan Batik Sumatera Selatan bernuansa manggis yang halus.

Di ruang tamu, ukiran kayu tembesu berbalur merah emas menyapa, sementara Tanjak Palembang marun keemasan berdiri gagah di kepala para lelaki.

Di Pedamaran, perajin memanen purun dari lahan gambut, menjemurnya, lalu menganyamnya jadi tikar yang terasa dekat dengan alam.

Jadi, mari kita selami satu per satu ringan, santai, dan tetap fokus supaya cerita di balik tiap motif, anyaman, dan lipatan terasa hidup, relevan, dan siap menginspirasi gaya hari ini.

Baca juga : Cinderamata Khas Aceh: Dari Kuliner Hingga Kerajinan Tangan

1. Songket Palembang

Kerajinan khas Sumatra Selatan. Pernah lihat kain yang berkilau indah dengan benang emas atau perak?

Nah, itulah Songket Palembang, kebanggaan Sumatera Selatan yang namanya sudah melanglang buana. Sejak dulu, kain ini nggak cuma jadi pelengkap busana, tapi juga simbol prestise.

Dulu, orang yang pakai Songket biasanya berasal dari kalangan atas semacam tanda “level sosial” gitu.

Yang bikin keren, tiap helai Songket punya cerita. Motifnya terinspirasi dari budaya Palembang yang sarat makna, mulai dari filosofi kehidupan sampai simbol kejayaan.

Makanya, ketika Songket muncul di acara adat atau momen spesial, auranya langsung beda anggun, mewah, tapi tetap berakar pada tradisi.

Dan sekarang? Songket nggak lagi sekaku zaman dulu. Banyak desainer muda yang mengolahnya jadi busana modern, sehingga bisa dipakai di catwalk sampai acara santai.

Intinya, Songket Palembang bukan cuma kain, tapi warisan budaya yang terus hidup dan beradaptasi dengan zaman.

2. Kain Jumputan

Kerajinan khas Sumatra Selatan. Kalau Songket itu mewah dengan benang emasnya, maka Kain Jumputan hadir dengan karakter yang lebih ceria dan berani.

Warna-warnanya mencolok seperti hijau terang, kuning menyala, sampai merah merona bikin siapa pun yang melihat langsung terpesona.

Dulu, Kain Jumputan identik dengan para gadis Palembang. Mereka memakainya sebagai simbol keceriaan sekaligus keanggunan masa muda.

Sekarang, kain ini tetap jadi pilihan di berbagai upacara adat, bahkan sering tampil di acara resmi dengan sentuhan modern.

Yang bikin Jumputan istimewa bukan cuma warnanya yang berani, tapi juga motif tradisionalnya yang penuh karakter.

Tiap pola tercipta dari teknik ikat celup yang sederhana namun hasilnya luar biasa.

Bisa dibilang, Jumputan adalah bukti bahwa kain tradisional nggak harus selalu mewah—kadang justru kesederhanaanlah yang bikin daya tariknya semakin kuat.

3. Kain Blongsong

Kerajinan khas Sumatra Selatan. Kalau ada kain yang bisa langsung memancarkan wibawa sekaligus kelembutan, jawabannya adalah Kain Blongsong.

Terbuat dari sutra halus atau benang katun pilihan, kain ini sudah lama jadi sahabat para wanita dewasa di Palembang, khususnya ketika hadir di acara adat atau saat menyambut tamu di pesta pernikahan.

Blongsong nggak sekadar kain untuk dikenakan, tapi simbol keanggunan yang melekat erat pada budaya Palembang.

Setiap helainya punya kesan elegan, seakan ingin bercerita bahwa keindahan tradisi bisa tampil tanpa perlu berlebihan.

Nggak heran kalau banyak pecinta tekstil tradisional menjadikan Blongsong sebagai koleksi berharga. Selain nilai estetikanya yang tinggi, kain ini juga menyimpan makna budaya yang mendalam.

Jadi, ketika seseorang memakai Blongsong, mereka bukan hanya tampil menawan, tapi juga ikut melestarikan warisan seni tenun yang penuh nilai sejarah.

4. Batik Sumatera Selatan

Kerajinan khas Sumatra Selatan. Kalau dengar kata Batik, pikiran orang biasanya langsung melayang ke Jawa. Padahal, Sumatera Selatan juga punya batik khas yang nggak kalah memesona.

Setiap kabupaten dan kota di wilayah ini punya motif unik sendiri, jadi bayangin aja, ada puluhan cerita yang ditenun jadi satu lewat ragam corak batiknya.

Di Palembang, batik dikenal dengan ciri khas warna manggis yang elegan serta motif halus yang bikin mata betah menatapnya.

Ada juga Batik Jepri dan Batik Lasem dua karya yang lahir dari perpaduan budaya Palembang dan Jawa. Hasilnya? Sebuah kain dengan sentuhan unik, memikat, dan pastinya berbeda dari batik-batik lain yang pernah kamu lihat.

Batik Sumatera Selatan bukan cuma soal motif indah, tapi juga bukti betapa kaya dan berwarnanya perjalanan budaya di daerah ini.

Jadi, setiap kali kita mengenakan Batik Sumsel, rasanya seperti membawa pulang potongan sejarah dan kearifan lokal yang penuh makna.

5. Ukiran Kayu Khas Palembang

Kerajinan khas Sumatra Selatan. Kalau masuk ke rumah tradisional Palembang, pasti langsung terpikat sama detail ukiran kayunya. Warnanya khas banget: merah menyala yang dipadu dengan sentuhan emas, bikin kesannya mewah dan elegan.

Bahan yang dipakai biasanya kayu tembesu atau mahoni, dua jenis kayu yang terkenal kuat sekaligus indah untuk diolah.

Motif ukirannya nggak asal hiasan, tapi sarat makna budaya. Lekuk-lekuknya menggambarkan keanggunan Palembang yang sejak dulu dikenal sebagai kota penuh tradisi dan seni.

Karena itulah, ukiran ini nggak cuma jadi dekorasi semata, tapi juga simbol identitas budaya yang terus dijaga.

Biasanya, ukiran kayu khas Palembang hadir dalam bentuk hiasan rumah atau furnitur bernilai seni tinggi. Dari lemari, kursi, sampai pintu rumah adat, semuanya bisa jadi “kanvas” untuk karya ukiran ini.

Dan yang menarik, meski tampil mewah, ukiran kayu Palembang tetap punya nuansa hangat yang bikin rumah terasa hidup dan berkarakter.

6. Tanjak Palembang

Kalau bicara soal penutup kepala tradisional, Palembang punya kebanggaan tersendiri: Tanjak. Aksesoris khas pria ini bukan sekadar kain yang di lilit di kepala, tapi juga simbol kehormatan dan jati diri.

Warna merah marun yang di padu dengan kuning keemasan bikin tanjak terlihat gagah sekaligus elegan.

Dulu, tanjak biasa di pakai dalam acara adat atau upacara resmi. Sekarang, popularitasnya makin luas.

Banyak wisatawan yang jatuh hati pada tanjak, entah sebagai koleksi, oleh-oleh, atau bahkan untuk melengkapi pakaian tradisional mereka.

Uniknya, tanjak punya banyak bentuk dan gaya ikatan, masing-masing dengan filosofi berbeda. Dari cara melilit hingga posisi lipatan, semuanya mencerminkan karakter dan makna tersendiri.

Jadi, saat seseorang mengenakan tanjak Palembang, mereka nggak cuma sekadar memakai aksesori, tapi juga ikut menyuarakan kebanggaan budaya Sumatera Selatan.

7. Tikar Purun Pedamaran

Kalau biasanya tikar terbuat dari pandan atau rotan, Sumatera Selatan punya versi unik yang nggak kalah keren: Tikar Purun Pedamaran.

Bahan utamanya berasal dari purun, sejenis rumput liar yang tumbuh subur di lahan gambut basah. Meski kelihatannya sederhana, tangan-tangan terampil perajin berhasil menyulapnya jadi anyaman indah yang penuh nilai seni.

Tikar purun banyak di produksi di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Di sana, kerajinan ini sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus identitas lokal.

Selain cantik secara visual, tikar purun juga ramah lingkungan karena di buat dari bahan alami yang mudah di perbarui.

Nggak heran kalau tikar ini makin di lirik, baik sebagai alas duduk untuk acara tradisi, dekorasi rumah, maupun koleksi unik pecinta kerajinan.

Keindahan alaminya bikin ruangan terasa hangat dan bernuansa etnik sebuah bukti kalau sesuatu yang sederhana bisa jadi istimewa ketika di kerjakan dengan cinta dan ketelatenan.


Pengulas: Baso Marannu, owner pengembang website RAHASIA (https://ragamhiasindonesia.id ) saat ini sebagai peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)