
Ragam Motif Batik Cirebon. Kalau ngomongin batik, setiap daerah pasti punya ciri khas yang bikin kita langsung bisa nebak asalnya dari mana.
Nah, Cirebon juga nggak mau kalah. Batik dari kota udang ini punya gaya sendiri yang gampang di kenali. Salah satunya ada motif wadasan motif yang terinspirasi dari bentuk batu dan juga ada sentuhan ragam hias berbentuk awan alias mega.
Jadi, batiknya nggak cuma sekadar kain bermotif, tapi ada cerita dan rasa di balik tiap goresannya.
Yang menarik, batik Cirebon biasanya pakai warna latar yang lebih muda di banding batik daerah lain. Jadi, kesannya lebih adem di mata.
Ibaratnya kalau di bandingin sama temen nongkrong, batik Cirebon ini tipe yang kalem, tapi tetap punya karakter kuat.
Baca juga : Cinderamata Khas Ambon: Wajib Kamu Bawa Pulang
Motif Megamendung

Ragam Motif Batik Cirebon. Nah, kalau ngomongin motif, siapa sih yang nggak kenal Megamendung? Ini bisa di bilang “signature look”-nya Cirebon. Dari namanya aja udah puitis banget:
Mega artinya awan, Mendung ya mendung. Jadi, bayangin aja langit lagi mendung, tapi versi artistik yang di tuang di atas kain.
Kalau di perhatiin lebih dekat, ternyata motif Megamendung ini punya 7 gradasi warna biru. Bukan asal pilih warna, ya. Setiap gradasi punya makna yang dalam.
Biru muda itu simbol kehidupan yang makin cerah, sementara biru tua menggambarkan awan gelap penuh air hujan yang artinya bakal ada kehidupan baru, kesuburan, dan harapan.
Jadi, kalau pakai batik Megamendung, rasanya kayak lagi bawa doa dan energi positif ke mana-mana.
Uniknya lagi, ada unsur warna merah dan biru yang sengaja di taruh bareng. Kenapa? Karena proses pembuatannya dulu banyak melibatkan tangan laki-laki.
Jadi, warna merah dan biru tua itu di anggap mewakili sisi maskulinitas, keberanian, dan semangat hidup masyarakat pesisir.
Orang pesisir kan biasanya terbuka, egaliter, dan ceplas-ceplos nah, itu semua bisa kebaca dari filosofinya.
Buat saya pribadi, batik Megamendung ini bukan cuma karya seni, tapi juga cerminan karakter orang Cirebon: lugas, bersahabat, tapi tetap penuh makna.
Kalau kata orang Cirebon, “batik mah kudu ngajak ngobrol” artinya setiap motif punya cerita yang bisa bikin kita makin dekat sama budaya.
Jadi, kalau suatu hari kamu pakai batik Megamendung, jangan kaget kalau ada yang nyeletuk, “Wih, langit mendung kok jadi cakep gitu ya?”
Motif Batik Singa Barong

Ragam Motif Batik Cirebon. Kalau denger nama “Singa Barong”, rasanya kayak lagi denger judul film kolosal, ya. Padahal ini salah satu motif batik khas Cirebon yang punya cerita seru.
Motif ini biasanya menampilkan gambar kereta Singa Barong dengan latar putih yang bikin tampilannya kelihatan elegan sekaligus gagah.
Jadi, bukan cuma kain, tapi kaya akan simbol yang bikin kita mikir, “Wah, ini batik bukan sembarang batik.”
Singa Barong sendiri bukan singa biasa. Ia adalah sosok binatang mitologis campuran antara singa, naga, burung garuda, dan hewan-hewan lain yang di anggap punya kekuatan.
Dalam tradisi Jawa dan Bali, kata “barong” identik dengan sesuatu yang ajaib atau sakral. Nah, Cirebon mengambil inspirasi itu lalu di tuangkan ke dalam batik.
Hasilnya? Sebuah motif yang nggak cuma enak dipandang, tapi juga penuh makna spiritual.
Kalau di tarik ke filosofinya, batik Singa Barong ini jadi simbol kekuatan sekaligus spiritualitas. Bayangin aja, kereta Singa Barong dulu di pakai Sunan Gunung Jati sebagai sarana dakwah.
Jadi, setiap goresan motif di batiknya kayak membawa cerita sejarah dan pesan religi yang dalam.
Menurut saya pribadi, batik ini seperti reminder kecil: hidup itu butuh keseimbangan antara kekuatan fisik dan kekuatan batin.
Percuma punya tenaga singa kalau hati kita kosong. Nah, batik Singa Barong seakan ngajarin kita buat kuat, tapi juga tetap bersandar pada nilai spiritual.
Dan lucunya, kalau di pakai di acara resmi, batik motif ini bisa bikin aura si pemakai langsung naik level. Rasanya kayak auto tambah wibawa, mirip pejabat yang baru turun dari kereta kencana.
Bedanya, ini versi “kereta Singa Barong” yang di tenun jadi kain.
Motif Batik Paksi Naga Liman

Kalau tadi kita bahas Singa Barong yang gagah, sekarang gantian ngomongin motif batik Paksinaga Liman. Dari namanya aja udah terdengar keren, ya, kayak nama superhero versi Jawa.
Jadi, motif ini sebenarnya terinspirasi dari kereta kencana Keraton Cirebon yang super sakti bernama Paksi Naga Liman.
Nah, apa sih Paksi Naga Liman itu?
Bayangin satu makhluk gabungan: punya sayap perkasa kayak Paksi (burung garuda), punya tubuh melata sekaligus mistis kayak Naga, dan punya kekuatan kokoh kayak Liman (gajah).
Singkatnya, ini hybrid-nya dunia mitologi Nusantara versi “Avengers” tapi dalam satu tubuh.
Batik dengan motif ini nggak cuma sekadar pajangan, tapi mengandung filosofi mendalam. Dulu, kereta Paksinaga Liman di pakai sultan sebagai simbol kepemimpinan.
Jadi bukan cuma soal kendaraan mewah, tapi juga lambang bahwa seorang raja itu harus kuat kayak gajah, bijaksana kayak garuda yang terbang tinggi, sekaligus punya keluwesan naga yang bisa menyatu dengan alam.
Berat banget, ya? Tapi justru di situlah pesannya.
Kalau saya boleh jujur, motif ini terasa kayak reminder buat siapa aja yang punya tanggung jawab: entah itu pemimpin negara, kepala keluarga, atau bahkan kita yang jadi “pemimpin” untuk diri sendiri.
Hidup tuh nggak bisa cuma ngandelin otot doang, tapi juga butuh hati dan pikiran yang nyambung sama semesta.
Dan coba deh bayangkan, pakai batik motif Paksinaga Liman di acara resmi. Auranya bisa bikin orang lain langsung ngerasa, “Wah, ini orang bukan kaleng-kaleng.”
Bisa-bisa kamu malah ditanya, “Bro, itu motifnya apa? Kok keliatan wibawa banget?” Nah, di situlah serunya, karena batik ini memang bawa cerita sejarah plus nilai filosofis yang bikin siapa pun keliatan lebih “berkelas” tanpa harus ngomong banyak.
Motif Batik Patran Keris
Kalau ngomongin batik Cirebon, ada satu motif klasik yang nggak kalah keren dari motif-motif lainnya, yaitu Patran Keris.
Dari namanya aja udah ketebak, motif ini memang terinspirasi dari bentuk keris senjata pusaka yang selalu identik dengan wibawa dan kekuatan.
Nah, meskipun motifnya klasik, jangan salah, peminatnya nggak cuma orang Indonesia, lho!
Uniknya, orang Jepang justru sering banget pesan batik motif Patran Keris ini. Katanya sih, motif ini cocok banget dipakai buat bahan kimono.
Bayangin aja, kain batik Cirebon dipadukan sama kimono Jepang itu udah kayak kolaborasi lintas budaya yang bikin siapa pun manggut-manggut kagum. Kalau istilah anak sekarang, semacam “crossover epic” antara Nusantara dan Negeri Sakura.
Buat saya pribadi, ini jadi bukti nyata kalau batik Cirebon itu nggak hanya hidup di lingkup lokal, tapi juga udah main di panggung internasional.
Ada kebanggaan tersendiri pas tau karya anak bangsa bisa bikin orang luar jatuh hati. Ibaratnya, kita kayak lagi bilang ke dunia, “Hei, ini loh budaya kita, nggak kalah keren dari fashion mana pun!”
Dan kalau dipikir-pikir, lucu juga. Orang Jepang rela jauh-jauh pesan batik buat kimono, sementara kita kadang masih mikir, “Ah, batik itu buat acara resmi doang.”
Padahal, kalau dipakai dengan gaya yang pas, batik bisa fleksibel banget mulai dari formal sampai casual pun masuk.
Jadi, kalau ketemu batik Patran Keris, jangan cuma dilihat sebagai motif klasik. Lihatlah sebagai simbol bahwa batik kita bisa nyebrang budaya, dipakai orang di negeri lain, dan tetap terlihat elegan. Siapa tau, suatu hari batik Cirebon ini malah jadi tren global yang bikin dunia ngomong, “Indonesia? Oh iya, negara batik!”
Pengulas: Baso Marannu, owner pengembang website RAHASIA (https://ragamhiasindonesia.id ) saat ini sebagai peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Tinggalkan Balasan