Edo Kiriko: Seni Ukir Kaca yang Bikin Tokyo Makin Gemerlap
9 Kerajinan khas Jepang. Kalau jalan-jalan ke Tokyo, jangan cuma sibuk nyari ramen atau foto di Shibuya Crossing. Ada satu kerajinan yang menurut saya underrated banget tapi sebenarnya mewahnya kelewatan: Edo Kiriko.
Nah, Edo Kiriko ini bukan sekadar gelas biasa buat naro es teh manis eh, maksud saya sake. Ini seni mengukir kaca yang udah eksis dari tahun 1834, alias udah lebih tua dari kakek buyut kita.
Dulu, para pengrajin di Edo (sekarang Tokyo) mulai eksperimen ngukir kaca pakai pasir khusus yang namanya Pasir Kongo (金剛砂).
Hasilnya? Kaca yang awalnya polos jadi punya motif kece, dari garis geometris sampai bunga-bunga yang elegan. Bayangin kalau minum kopi pagi pake gelas Edo Kiriko… rasanya kaya jadi bangsawan Jepang zaman dulu.
Yang makin seru, pada awal periode Meiji, ada orang Inggris bernama Emanuel Houptman yang datang ke Jepang. Beliau ngajarin teknik ngukir kaca modern ke sekitar 10 pengrajin lokal.
Jadi bisa dibilang Edo Kiriko ini hasil kawin silang budaya: sentuhan Jepang yang detail ketemu gaya Barat yang teknikal. Alhasil, lahirlah karya kaca yang nggak cuma cantik tapi juga punya cerita sejarah.
Sampai sekarang, Edo Kiriko tetap jadi kebanggaan Jepang. Nggak heran kalau banyak wisatawan rela beli meski harganya bisa bikin dompet megap-megap.
Tapi ya, siapa sih yang nggak kepincut sama kilauan kaca merah atau biru yang motifnya sehalus itu?
Baca juga: Kerajinan unik dari berbagai Negara yang semakin Langka
Nambu Tekki: Teko Besi Jepang yang Nggak Cuma Buat Gaya, Tapi Juga Warisan
9 Kerajinan khas Jepang. Kalau biasanya kita ngopi pakai gelas kaca atau mug keramik, orang Jepang punya gaya lain yang lebih classy: mereka nyeduh teh pakai teko besi bernama Nambu Tekki (南部鉄器).
Nah, Nambu Tekki ini bukan sekadar teko, tapi kerajinan legendaris dari Prefektur Iwate yang udah eksis sejak abad ke-17.
Bayangin, teko yang kita anggap “cuma buat nyeduh teh” ternyata bisa jadi pusaka turun-temurun di Jepang.
Yang bikin saya kagum, teko besi ini punya ciri khas unik. Biasanya kan kalau kita rebus air di wadah besi, rasanya suka ada bau atau rasa “besi” yang bikin ilfeel.
Tapi kalau pakai Nambu Tekki, anehnya justru airnya jadi bersih dan rasa tehnya makin nikmat. Jadi jangan heran kalau orang Jepang nganggep minum teh dari teko ini sebagai ritual kecil yang bikin hidup lebih tenang.
Selain fungsinya yang gokil, desain Nambu Tekki juga kece parah. Warna hitamnya elegan, teksturnya penuh titik-titik khas, dan sekarang bahkan udah ada yang berwarna merah atau biru.
Jadi kalau mau koleksi, bukan cuma bikin dapur tambah estetik, tapi juga bisa bikin tamu melongo waktu lihat teko kamu dipajang di meja makan.
Arita-yaki: Keramik Jepang yang Elegan dan Bikin Hidup Lebih Estetik
9 Kerajinan khas Jepang. Kalau ngomongin Jepang, orang biasanya langsung keinget sushi, anime, atau bunga sakura. Tapi buat saya, ada satu hal yang nggak kalah keren: keramik Arita-yaki (有田焼).
Ini bukan sekadar piring atau cangkir buat naro makanan, tapi karya seni yang udah hidup lebih dari 400 tahun. Gila kan, piringnya aja punya umur lebih panjang dari silsilah keluarga kita.
Cerita asal-usulnya juga seru banget. Jadi, waktu Toyotomi Hideyoshi ngirim pasukan ke Korea di masa Sengoku, ada seorang pembuat tembikar asal Korea bernama Lee Sam-pyeong (李参平) yang ikut nyebrang ke Jepang.
Nah, beliau ini nemuin batu tembikar di Arita, Prefektur Saga. Dari situlah lahir tembikar Arita-yaki yang sekarang jadi ikon kerajinan Jepang. Bisa dibilang, ini contoh kolaborasi internasional sebelum kata “kolaborasi” jadi jargon startup.
Yang bikin Arita-yaki spesial bukan cuma usianya, tapi juga tampilannya. Bayangin porselen putih mulus dengan motif merah, biru, bahkan emas.
Kalau dipajang di rak kaca ruang tamu, pasti bikin tamu mikir, “Wah ini barang museum atau koleksi pribadi, ya?” Elegan, klasik, tapi tetap relevan buat gaya hidup modern.
Hakone Yosegi Zaiku: Puzzle Kayu Jepang yang Bikin Kepala Gatel tapi Hati Senang
9 Kerajinan khas Jepang. Kalau ngomongin kerajinan Jepang, orang biasanya langsung ke batik versi Jepang alias kimono, atau keramik Arita yang kinclong.
Tapi ada satu kerajinan kayu dari Hakone, Prefektur Kanagawa, yang menurut saya punya vibes unik: Hakone Yosegi Zaiku (箱根寄木細工).
Nama panjang, tapi gampangnya sih ini adalah seni mosaik kayu yang udah eksis lebih dari 130 tahun.
Apa yang bikin beda? Nah, para pengrajin di Hakone jago banget mainin warna alami kayu. Mereka nggak pakai cat atau pewarna buatan, tapi langsung manfaatin warna asli dari pohon-pohon seperti kamper, sakura, yew, sampai pohon pernis.
Hasilnya? Pola kotak-kotak dan geometris yang detail banget, kaya batik tapi versi kayu. Kalau lihat sekilas, kamu mungkin mikir, “Waduh, ini kok kayu bisa kayak marmer atau kain sih?”
Produk Yosegi Zaiku ini juga macem-macem: dari laci kecil, tatakan gelas, sampai kotak perhiasan. Tapi yang paling bikin orang gregetan adalah kotak rahasia (秘密箱) alias karakuri box.
Ini bukan sekadar kotak, tapi teka-teki yang cuma bisa dibuka kalau kamu tahu urutan trik yang benar. Ada yang gampang, cuma empat trik.
Tapi ada juga yang bikin kepala cenat-cenut: sampai 100 trik lebih! Kebayang nggak kalau mau ambil anting di dalam kotak, eh malah habis waktu sejam buat buka tutupnya
Wajima-nuri: Seni Pernis Jepang yang Ribetnya Bikin Salut
9 Kerajinan khas Jepang. Kalau dengar kata “pernis”, mungkin yang kebayang cuma kursi kayu yang dipoles biar kinclong. Tapi beda cerita kalau kita ngomongin Wajima-nuri (輪島塗).
Ini pernis kelas sultan yang lahir di Kota Wajima, Prefektur Ishikawa, Jepang. Umurnya? Sudah tua banget. Memang nggak ada catatan resmi kapan mulai, tapi dokumen mencatat ada pengrajin Wajima-nuri sejak tahun 1476.
Jadi, bisa dibilang, ini kerajinan yang umurnya lebih panjang dari drama keluarga besar kita.
Yang bikin Wajima-nuri istimewa adalah warnanya. Bayangin pernis merah terang, hitam legam, ditambah dekorasi emas yang bikin mata langsung terpikat.
Kalau dipajang di meja makan, sumpit atau mangkuk Wajima-nuri ini bisa bikin mie instan terasa seperti hidangan kaiseki di restoran bintang lima.
Produk Wajima-nuri juga macam-macam: mulai dari mangkuk sup, sumpit, kotak jubako, cermin tangan, sampai peralatan teh.
Tapi yang bikin saya ternganga adalah proses pembuatannya. Satu produk bisa lewat lebih dari 120 tahap detail. Gila nggak tuh? Kerajinan lain biasanya cukup satu orang dari awal sampai akhir, tapi Wajima-nuri butuh tim pengrajin super telaten.
Jadi hasil akhirnya wajar banget kalau disebut “permata kerajinan”.
Kamakura-bori
9 Kerajinan khas Jepang. Oke, bayangin gini: kamu lagi jalan-jalan ke Kamakura, kota adem yang terkenal dengan kuil tua dan suasana ala Jepang tempo dulu.
Nah, selain selfie di depan patung Buddha raksasa, ada satu hal yang jangan sampai kelewat—Kamakura-bori (鎌倉彫).
Kerajinan ini unik banget karena bukan sekadar pernis biasa. Para pengrajin di Kamakura punya “jurus rahasia” mereka sendiri: kayu diukir dengan detail super teliti, lalu dilapisi pernis berkali-kali sampai muncul kilau elegan yang bikin siapa pun melongo.
Hasilnya? Barang-barang kece mulai dari nampan buat suguhan tamu, sumpit yang nggak pasaran, sampai aksesori imut kayak jepit rambut dan liontin.
Kalau saya pribadi, Kamakura-bori ini punya vibe “klasik tapi nggak kaku”. Cocok banget buat orang yang pengen punya barang berkelas tanpa harus pamer logo gede-gedean.
Bahkan saya sempat mikir, kalau mangkuk Indomie di rumah dikasih sentuhan Kamakura-bori, mungkin mie rebusnya langsung naik kasta jadi fine dining ya, minimal berasa makan di kafe Jepang lah, bukan di dapur kos.
Hakata-ori
9 Kerajinan khas Jepang. Oke, ayo kita ngobrol soal Hakata-ori (博多織), kain yang udah eksis lebih dari 800 tahun tapi sampai sekarang masih bikin orang jatuh cinta.
Bayangin, sejak tahun 1235, ada seorang tokoh bernama Mitsuta Yazaemon yang bela-belain pergi jauh ke Dinasti Song (sekarang Tiongkok) buat belajar teknik menenun.
Tahun 1241, doi pulang ke Jepang bawa ilmu itu, dan lahirlah Hakata-ori. Gokil kan? Jadi bisa di bilang, kain ini hasil “studi banding” paling keren di abad ke-13.
Yang bikin Hakata-ori beda dari kain lainnya adalah karakteristiknya: kuat, tebal, tapi tetep punya kilau elegan dari benang sutra, emas, dan perak.
Awalnya kain ini di pakai buat ikat pinggang kimono, tapi sekarang lebih fleksibel ada versi dasi, tas, bahkan tempat pena. Jadi kalau kamu lagi jalan-jalan ke Fukuoka, jangan heran kalau orang sana bakal bilang, “Eh, oleh-olehnya jangan cuma ramen, bawa juga Hakata-ori!”
Saya pribadi suka banget sama vibe kain ini. Hakata-ori itu kayak kombinasi antara tradisi dan gaya hidup modern.
Buat cowok, pakai dasi Hakata-ori tuh rasanya kayak upgrade instant dari level “rapat Zoom biasa” ke “CEO vibes”. Sedangkan buat cewek, tas Hakata-ori bisa jadi fashion statement yang nggak pasaran.
Furin
9 Kerajinan khas Jepang. sekarang kita bahas soal Furin (風鈴) alias lonceng angin Jepang. Jujur ya, kalau denger suara cling cling furin pas musim panas, rasanya tuh kayak dapet “AC alami” langsung dari semesta.
Padahal cuma bunyi angin yang ngebentur kaca atau logam kecil, tapi entah kenapa pikiran jadi adem. Orang Jepang percaya suara furin bisa bikin rasa panas seakan berkurang, karena bayangan angin sepoi-sepoi aja udah cukup bikin hati plong. Keren banget ya psikologinya?
Yang bikin saya makin jatuh cinta sama furin adalah nilai estetikanya. Bentuknya lucu, kadang bulat bening kayak bola kaca dengan motif bunga musim panas, kadang ada juga yang keramik atau logam.
Jadi selain fungsinya bikin hati adem, dia juga bisa jadi dekorasi rumah yang cantik banget. Cobain deh gantung di teras, biar tiap angin lewat ada soundtrack cling cling yang calming.
Kalau kamu jalan-jalan ke Tokyo, mampir aja ke Shinohara Furin Main Shop. Di situ banyak banget furin kece yang bisa kamu jadikan oleh-oleh.
Dan kalau kamu tipe orang kreatif yang tangannya gatel pengen bikin sendiri, ada juga lokakarya buat belajar bikin furin. Jadi pulang ke Indonesia nggak cuma bawa belanjaan, tapi juga bawa skill baru mantap kan?
Daruma
9 Kerajinan khas Jepang. Mari kita ngobrolin tentang Daruma (達磨), si boneka bulat Jepang yang lucu tapi penuh makna. Kalau orang Jepang bilang ini jimat keberuntungan, saya lebih suka nyebut daruma itu kayak “teman setia buat ngejar mimpi.”
Gimana nggak? Bentuknya bulat, nggak punya tangan dan kaki, tapi filosofinya dalam banget. Ceritanya di ambil dari seorang biksu Buddha yang meditasi gila-gilaan sampai bertahun-tahun saking fokusnya, katanya tangan dan kakinya “hilang.”
Serem sih kalau di bayangin, tapi dari situlah lahir simbol keteguhan hati.
Daruma biasanya merah menyala dengan wajah serius. Alisnya di bikin kayak burung bangau, kumisnya kayak kura-kura dua hewan yang di Jepang di percaya panjang umur.
Jadi selain jimat keberuntungan, daruma juga bawa vibe umur panjang. Tapi jangan salah, di beberapa daerah desain daruma bisa beda-beda. Misalnya di Pasar Ikan Tsukiji, ada daruma yang alisnya mirip ikan—ya cocok banget lah sama lokasinya.
Nah, yang bikin daruma ini unik adalah matanya. Pas beli, biasanya daruma belum punya bola mata. Kamu harus gambar mata kirinya sambil bikin harapan atau target.
Kalau keinginan itu tercapai, baru gambar mata kanannya. Jadi, ada proses ritual kecil yang bikin daruma ini jadi lebih personal. Rasanya kayak punya “partner accountability” ala Jepang bedanya, partner kamu diem aja di rak tapi tatapannya bikin kamu inget terus sama target.
Pengulas: Baso Marannu, owner pengembang website RAHASIA (https://ragamhiasindonesia.id ) saat ini sebagai peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Tinggalkan Balasan