Filosof Yunani Klasik Plato: Seni Hanya Bayangan

posted in: RAGAM HIAS | 1
Filosof Yunani Klasik Plato: Seni Hanya Bayangan

Filosof Yunani Klasik Plato. Kalau ngomongin soal keindahan, nama Plato (427-347 SM) pasti langsung nongol di daftar teratas. Bayangin aja, di antara para filosof Yunani klasik, dia tuh yang paling serius ngulik soal “apa sih indah itu?”.

Lucunya, meski dia ngefans banget sama topik keindahan, Plato malah nggak percaya sama yang disebut “seni indah”. Kayak ada plot twist Cgitu kan?

Awalnya Plato sempat coba-coba jadi penulis tragedi. Jadi kalau zaman sekarang, mungkin dia udah bisa jadi scriptwriter drama kolosal yang episodenya bisa sampai ratusan.

Tapi gara-gara ketemu Sokrates, ambisi itu langsung ia tendang jauh-jauh. Katanya sih, lebih penting ngejar kebenaran daripada ngejar tepuk tangan penonton.

Nah, di sinilah pemikirannya jadi rada “nyebelin” tapi menarik. Menurut Plato, apa pun yang ada di dunia seni itu cuma bayangan, imitasi doang. Keren? Iya. Menghibur? Bisa jadi.

Tapi jujur aja, buat Plato, kebenaran nggak ada di sana. Seni itu kayak ilusi optik—bikin kita terpana, tapi ujung-ujungnya cuma tipuan.

Kalau pakai bahasa tongkrongan, kira-kira begini: “Bro, seni itu cuma highlight reels, bukan realitas full version.”

Jadi, meskipun Plato ngaku jatuh cinta sama ide tentang keindahan, dia tetap curiga kalau seni itu sekadar bumbu penyedap, bukan makanan utamanya.

Baca Juga: Memahami Nilai Estetis: Keindahan Bukan Sekadar Cantik

Seni Itu Bukan Sekadar Bisa Menipu Mata

Filosof Yunani Klasik Plato. Nah, meski Plato agak “kaku” soal seni, bukan berarti di zamannya orang nggak bisa bikin karya yang super realistis.

Ada cerita populer tentang pelukis bernama Zeuxis. Katanya, dia pernah melukis buah anggur yang saking realnya sampai burung-burung datang mau metik.

Bisa dibayangin kan? Kalau ada Instagram waktu itu, mungkin lukisannya udah viral duluan dengan caption, “Gagal fokus, burung aja ketipu!”

Tapi di mata Plato, meskipun karya Zeuxis itu bikin heboh, tetap aja belum tentu lebih “benar” dibanding lukisan lain yang kurang detail. Kenapa? Karena buat Plato, ukuran kebenaran itu nggak ada hubungannya sama seberapa mirip karya seni dengan realitas.

Jadi, kalau sekarang ada orang pamer lukisan hyperrealism yang mirip banget foto, Plato mungkin cuma geleng-geleng sambil bilang, “Ya bagus sih… tapi itu masih bayangan, bukan kebenaran sejati.”

Di sinilah konsep unik Plato muncul. Menurut dia, benda-benda di dunia ini punya level “eksistensi” yang berbeda. Ada yang lebih dekat dengan kebenaran, ada juga yang jauh. Jadi bukan sekadar “nyata atau nggak nyata”, tapi lebih kayak spektrum.

Misalnya, ada yang lebih “mengada” sehingga dianggap lebih benar, sementara yang lain kurang “mengada” jadi dianggap kurang benar.

Kalau mau pakai perumpamaan zaman sekarang, Plato tuh kayak orang yang bilang: “Bukan soal HD atau 4K-nya, bro, tapi soal kualitas sinyal aslinya.”

Jadi, meskipun lukisan Zeuxis sukses bikin burung-burung terkecoh, Plato tetap santai aja, karena baginya kebenaran itu bukan soal visual yang menipu mata, tapi tentang inti eksistensi dari sesuatu.

Dunia Fana vs Dunia Idea

Filosof Yunani Klasik Plato. Kalau menurut kebiasaan orang Yunani zaman itu, sesuatu yang benar-benar “ada” cuma bisa berarti satu hal: ia abadi, nggak berubah, dan nggak bisa musnah.

Masalahnya, realitas yang kita lihat sehari-hari justru kebalikannya. Semua berubah. Semua fana. Hari ini ada, besok bisa nggak ada. Kayak warung kopi favorit yang tiba-tiba tutup permanen, bikin shock, tapi nyata.

Plato kemudian mikir, kalau semua benda di dunia ini gampang lenyap, kenapa kita masih bisa mengenali sesuatu dengan konsisten? Misalnya, pohon.

Pohon A bisa tumbang, pohon B bisa ditebang, tapi kita tetap tahu: “Oh, itu pohon.” Nah, yang bikin kita bisa kenal dan bedain sesuatu itulah yang disebut Plato sebagai hakikat, atau idea.

Menurut dia, idea ini bukan sekadar isi pikiran atau khayalan manusia. Bukan. Idea itu ibarat “cetak biru kosmik” yang jadi dasar dari semua hal di dunia nyata.

Jadi meskipun semua pohon suatu saat musnah, sifat “kepohonan” tetap eksis di luar sana. Abadi. Nggak bisa ikut hancur bareng batangnya.

Kalau mau dibikin lebih gampang: dunia yang kita lihat ini kayak serial drama yang aktornya bisa keluar masuk, tapi skrip besarnya tetap ada.

Nah, idea itu skrip utama. Dengan begitu, dunia tetap punya pola, nggak jadi chaos yang isinya cuma tumpukan kesan acak tanpa makna.

Dan inilah yang bikin Plato “beda kelas”. Buat dia, yang beneran nyata itu justru idea—sesuatu yang konstan, nggak kenal waktu, dan jadi patokan kebenaran.

Sedangkan dunia indrawi yang kita lihat tiap hari? Ya… itu cuma semacam “versi demo” dari realitas sejati.

Seniman: Pencipta atau Peniru?

Nah, setelah panjang lebar ngomongin dunia idea, Plato akhirnya nyentil pertanyaan penting: terus, kalau begitu, seni itu ada di level kebenaran yang mana?

Plato langsung bikin klasifikasi yang agak “sadis” menurut ukuran kita sekarang. Katanya, ada dua tipe seniman.

Pertama, mereka yang benar-benar bikin sesuatu secara kreatif, kayak tukang kayu bikin kursi, arsitek bikin rumah, atau pandai besi bikin kereta.

Kedua, mereka yang cuma membatasi diri pada meniru apa yang sudah ada, misalnya pelukis, pematung, atau penyair.

Buat Plato, kelompok pertama jelas lebih dekat ke kebenaran. Kenapa? Karena minimal mereka masih “nangkap” idea sebuah kursi atau rumah, lalu mewujudkannya dalam bentuk nyata. Sedangkan pelukis? Hmm… mereka cuma bikin salinan dari benda yang udah jadi.

Jadi kalau tukang kayu bikin kursi, dia terhubung dengan idea kursi. Tapi kalau pelukis menggambar kursi, dia sebenarnya nggak lagi meniru idea, tapi cuma menyalin kerjaan tukang kayu.

Dengan kata lain, hasil lukisan kursi itu bukan sekadar gambar, tapi “gambar dari gambar”.

Plato bahkan nyebut seni tiruan ini kayak bayangan berlapis. Semakin jauh dari sumber aslinya, semakin jauh juga dari kebenaran.

Kalau diibaratkan zaman sekarang, pelukis itu kayak bikin screenshot dari sebuah foto yang sebelumnya udah di-screenshot orang lain. Hasilnya makin buram, makin jauh dari aslinya.

Makanya, menurut Plato, seni yang sifatnya cuma meniru dunia indrawi nggak bakal pernah benar-benar nyampe ke inti kebenaran.

Karena idea itu sifatnya intelektual, abadi, dan nggak bisa ditangkap indra. Seniman yang cuma menyalin dunia kasat mata sebenarnya cuma memantulkan “bayang-bayang mimpi” aja.

Plato seakan mau bilang, “Seni itu memang bisa menghibur, bisa bikin kagum, tapi jangan harap bisa ngasih kebenaran sejati.”

Keindahan: Jembatan Menuju Dunia Idea

Filosof Yunani Klasik Plato. Plato memang sering bikin seniman geregetan, tapi jangan salah, dia nggak pernah menyepelekan keindahan.

Buatnya, keindahan itu penting, karena tanpa rasa kagum pada keindahan, manusia nggak bakal terdorong untuk mencari kebenaran abadi di balik dunia ini. Singkatnya, keindahan itu semacam “pintu masuk” menuju dunia idea.

Menurut Plato, yang bikin kita jatuh cinta, terpukau, atau bahkan baper melihat sesuatu, pasti ada kaitannya sama keindahan.

Bayangin kalau dunia ini sama sekali nggak ada keindahan semuanya hambar, kusam, dan datar. Mungkin kita udah jadi makhluk super cuek yang nggak peduli apa-apa.

Tapi berkat keindahan, kita kepo, kita pengin tahu lebih jauh, dan akhirnya kita terdorong untuk mengejar kebenaran sejati.

Tapi tentu aja, keindahan yang kita lihat sehari-hari ini cuma refleksi tipis dari keindahan yang lebih tinggi: idea keindahan itu sendiri.

Plato menggambarkannya kayak cahaya matahari yang memantul ke air. Indah sih, bikin adem, tapi itu cuma pantulan dari sumber cahaya yang lebih terang. Nah, idea keindahan itulah sumber utamanya.

Dan yang paling keren, buat Plato, keindahan bukan sekadar soal tubuh yang rupawan atau pemandangan yang cakep. Itu level paling permukaan. Ada yang jauh lebih indah: jiwa yang baik, keadilan yang tegak, kebijaksanaan yang dalam, dan kebajikan-kebajikan lainnya. Bahkan puncaknya, keindahan sejati menyatu dengan kebenaran dan kebaikan. Jadi yang indah, yang benar, dan yang baik itu sebenarnya satu paket, nggak bisa dipisahkan.

Kalau pakai istilah zaman sekarang, Plato kayak bilang: “Bro, jangan cuma ngejar tampilan luar, tapi cari makna yang bikin jiwa kamu indah.”

Seni yang Menggoda vs Seni yang Membimbing

Nah, meski Plato mengakui keindahan punya derajat tinggi, itu nggak otomatis bikin dia jadi ramah sama seni.

Alasannya? Karena keindahan yang tampak indrawi itu punya sifat ambivalen, bisa membawa kita terbang lebih tinggi, tapi bisa juga bikin kita terperosok.

Ambil contoh sederhana: tubuh yang indah. Buat sebagian orang, itu bisa jadi pemicu kekaguman dan bikin mereka merenung soal keindahan yang lebih hakiki.

Tapi buat orang lain? Ya bisa jadi malah sekadar membakar nafsu dan berhenti di situ saja. Sama halnya dengan seni: satu orang bisa melihat kedalaman makna, sementara yang lain cuma terpesona sama gemerlap warnanya.

Plato ngasih contoh kocak tapi ngena: panggang daging yang harum itu jelas bikin ngiler (kecuali vegetarian ya). Tapi coba deh siapa yang bisa berkontemplasi tentang hakikat kebenaran sambil menatap sepotong iga bakar?

Nah, seni menurut Plato persis kayak itu. Alih-alih ngajak kita naik level menuju idea, seni justru sering memanjakan indra dan nafsu.

Di sinilah kritik pedasnya: seni membatasi diri pada nada, warna, dan bentuk yang bikin indah secara kasat mata.

Akibatnya, seni seolah-olah menempatkan keindahan indrawi sebagai puncak tertinggi, padahal bukan. Lebih parah lagi, kalau seni cuma merangsang indra, ia malah bisa mengacaukan harmoni jiwa dan itu fatal, karena justru dalam keselarasan jiwa itulah keindahan sejati berada.

Namun Plato bukan tipe orang yang cuma bisa nyinyir. Ia masih ngasih “jalan keluar”. Menurutnya, seni baru punya makna kalau ia mau tunduk pada kebaikan.

Jadi, kalau seni bisa membantu manusia mengendalikan nafsu, hidup dengan kebajikan, dan mencari kebenaran, barulah seni itu layak disebut “seni sejati”.

Makanya, buat Plato, seni yang paling penting bukan sekadar melukis, memahat, atau menggubah syair. Seni yang paling kita butuhkan adalah seni untuk hidup dengan benar. Yang lainnya? Kalau nggak ikut mendukung, ya bisa-bisa cuma jadi hiasan kosong, bahkan malah merusak.

Penutup

Plato mungkin terdengar “killer” banget kalau ngomongin seni—seolah-olah semua karya indah cuma ilusi dan bayangan dari bayangan.

Tapi kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Ia ngajarin kita buat nggak gampang puas sama yang terlihat indah di luar, karena ada makna yang lebih dalam yang perlu dicari.

Buat Plato, seni itu baru punya arti kalau bisa jadi guru kehidupan, bukan cuma hiburan mata.

Dan di titik itu, kita jadi sadar: keindahan, kebenaran, dan kebaikan ternyata memang satu paket. Pertanyaannya sekarang, kita mau berhenti di visual luar saja, atau berani nyelam lebih dalam?