Filosof Friedrich Schiller: Estetika di Tengah Kekacauan Revolusi

posted in: RAGAM HIAS | 0
Filosof Friedrich Schiller: Estetika di Tengah Kekacauan Revolusi

Filosof Friedrich Schiller. Bayangin deh, tahun 1794. Lima tahun setelah Revolusi Perancis meledak, orang-orang awalnya penuh harapan: kebebasan, persamaan, keadilan, semua terdengar manis banget di telinga.

Tapi kenyataannya? Hmm, jangankan manis, yang ada malah pahit getir. Revolusi yang tadinya diidolakan berubah jadi semacam drama tanpa sutradara: massa ngamuk, darah berceceran, dan nama besar kayak Robespierre sama Saint-Just sibuk ngegas tanpa rem.

Di tengah hiruk-pikuk itu, muncullah Friedrich Schiller (1759–1805). Alih-alih ikut heboh teriak di jalanan, Schiller malah duduk tenang sambil nulis Tentang Pendidikan Estetis Manusia lewat serangkaian surat. Keren ya, di saat orang lain angkat pedang, dia malah angkat pena.

Schiller sadar satu hal penting: revolusi berhasil ngegulingin rezim absolut, tapi gagal bikin tatanan baru yang benar-benar adil.

Kebebasan dan persamaan masih jadi jargon kosong, dan kekacauan cuma bisa “diredam” dengan kekerasan yang kejam.

Nah, di sinilah Schiller ngajak orang mikir: kalau politik bikin orang barbar, mungkin estetika bisa bikin manusia lebih manusiawi.

Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Kadang kita butuh seni, musik, atau bahkan sekadar puisi buat jaga waras di tengah keributan dunia.

Coba bayangin kalau Schiller hidup di zaman sekarang, mungkin dia bakal bikin podcast tentang seni dan healing, atau minimal ngetwit panjang kayak thread viral di X.

Jadi intinya, Schiller ngajarin kita bahwa keindahan bukan cuma soal lukisan cakep atau musik enak didengar, tapi juga soal gimana manusia bisa belajar jadi lebih beradab lewat rasa estetis.

Tanpa itu, revolusi atau perubahan apapun gampang banget nyasar ke jalur brutal.

Schiller dan Jalan Tengah: Antara Akal dan Perasaan

Filosof Friedrich Schiller. Berbeda dengan beberapa temannya yang langsung pesimis melihat kekacauan Revolusi Perancis, Schiller nggak buru-buru bilang bahwa setiap usaha politik itu ujung-ujungnya cuma nambah masalah.

Justru sebaliknya, dia percaya rakyat Perancis punya hak penuh buat melawan negara yang cuma berdiri di atas kekuasaan buta.

Negara kayak gitu, kata Schiller, cuma bisa bertahan pakai “jurus kegelapan” alias kekerasan, dan itu jelas nggak sehat.

Tapi Schiller juga realistis. Dia paham banget bahwa kita nggak bisa sekadar hapus sistem lama, terus ganti dengan negara berbasis akal budi yang serba ideal, kayak install aplikasi baru di HP.

Dunia nyata nggak sesederhana itu, bro. Butuh yang namanya “langkah antara”, semacam jembatan supaya prinsip akal sehat bisa diterima semua orang dengan sukarela, bukan dipaksa.

Nah, di titik ini Schiller ngajak kita lihat manusia secara utuh. Katanya, manusia itu nggak cuma mikir, tapi juga merasa.

Kalau cuma hidup pakai perasaan doang tanpa prinsip, jadinya liar. Tapi kalau cuma ngotot pakai logika tanpa peduli rasa, jadinya barbar.

Dua-duanya bahaya. Jadi idealnya, akal dan perasaan harus selaras, kayak duet vokal yang nadanya pas.

Baca juga: Filosof Yunani Klasik Plato: Seni Hanya Bayangan

Estetika sebagai Penyelamat

Schiller sadar betul bahaya dari “akal budi murni” yang sok mengatur segalanya. Bagi dia, manusia nggak bisa hanya diukur dari rasionalitasnya. Justru makna sejati manusia lahir dari harmoni antara rasa dan pikir.

Di sinilah estetika masuk jadi semacam penengah. Seni, keindahan, dan rasa estetis bisa bikin manusia nggak terjebak ekstrem: nggak liar karena perasaan doang, tapi juga nggak kaku jadi barbar karena logika doang.

Kalau ditarik ke zaman kita sekarang, konsep Schiller ini terasa relevan banget. Misalnya di dunia kerja, orang yang terlalu pakai logika bisa jadi bossy, kaku, dan bikin suasana kayak robot.

Tapi kalau terlalu pakai perasaan, bisa baperan tiap ada kritik. Nah, di sinilah pentingnya “jalan tengah”. Kita butuh balance biar hidup nggak cuma efisien, tapi juga manusiawi.

Dan mungkin, kalau Schiller nongkrong sama kita di warkop pinggir jalan, dia bakal bilang: “Bro, hidup itu nggak bisa cuma pakai otak atau hati. Harus ada rasa seni biar hidup nggak hambar.”

Negara Jangan Jadi Tukang Larang

Filosof Friedrich Schiller, hal paling minimal yang bisa kita harapkan dari negara itu sederhana: jangan sampai negara menghalangi warganya buat berkembang jadi manusia seutuhnya.

Nggak perlu neko-neko dulu, cukup jangan bikin aturan yang bikin rakyatnya nggak bisa bernapas bebas.

Negara yang sehat itu nggak cuma hormat sama hal-hal “umum” atau generik, tapi juga ngasih ruang buat yang unik, personal, dan subjektif.

Bayangin kalau negara kayak mesin fotokopi, semua warganya di suruh sama rata, sama rasa, tanpa menghargai keunikan masing-masing.

Ujung-ujungnya jadi kaku dan membosankan. Padahal justru di keberagaman itulah manusia menemukan makna.

Dari Kepala ke Hati

Masalahnya, pencerahan seringkali berhenti di kepala. Rasio memang bisa memahami banyak hal, tapi tanpa perasaan, pemahaman itu mandul, kayak komputer canggih tapi mati listrik.

Schiller sadar banget: kalau mau bener-bener nyentuh manusia, akal budi harus nyambung sama hati. Kalau enggak, ya cuma jadi teori keren di kertas, nggak ada gunanya di kehidupan nyata.

Nah, pertanyaannya: gimana caranya bikin akal budi dan perasaan bisa jalan bareng? Schiller punya jawaban unik: lewat seni.

Seni, Jalan Pintas ke Jiwa

Menurut Schiller, seni nggak bisa serta-merta bikin orang jadi suci atau malaikat. Tapi seni bisa membuka pintu, bikin manusia punya kemungkinan buat jadi lebih baik.

Seni itu kayak cermin indah yang memantulkan kebaikan, bikin orang pengen meniru tanpa merasa di paksa.

Dia kasih contoh sederhana: kalau orang senang dengan hal-hal kasar, liar, atau semena-mena, jangan langsung di hajar dengan aturan keras.

Coba arahkan kesenangan itu ke bentuk yang lebih halus, lebih mulia. Kasih simbol, bentuk, atau karya seni yang bikin mereka terbiasa menikmati keindahan. Lama-lama, kesenangan itu akan berubah, dan pada akhirnya juga mempengaruhi tindakan nyata mereka.

Kalau di pikir, ini mirip banget sama cara orang tua mendidik anak. Misalnya, anak suka corat-coret tembok.

Daripada marah besar, kasih aja buku gambar atau kanvas kecil. Lama-lama, hobinya corat-coret bisa jadi bakat menggambar. Seni bekerja dengan cara yang halus tapi ngena.

Seni Mengatasi Alam

Buat Schiller, seni itu punya kekuatan buat ngasih “ilusi” yang lebih tinggi dari kenyataan sehari-hari. Lewat seni, manusia bisa ngelihat versi terbaik dari dirinya sendiri.

Bukan berarti kita jadi palsu, tapi seni bisa ngasih gambaran ideal yang bikin kita termotivasi buat naik level. Dengan cara ini, seni bukan cuma dekorasi, tapi jalan buat bikin hidup lebih manusiawi.

Dua Naluri yang Saling Tarik-Ulur

Menurut Filosof Friedrich Schiller, Dalam diri manusia, kata Schiller, ada dua naluri dasar yang kadang kayak tarik tambang.

Pertama, naluri indrawi alias naluri materi. Ini bikin kita pengen pengalaman baru terus, hal-hal segar, warna-warni kehidupan yang berlimpah.

Sisi ini yang bikin kita gampang penasaran, suka coba-coba, dan nggak betah kalau monoton.

Di sisi lain, ada naluri bentuk. Naluri ini lebih suka keteraturan, kesatuan, dan identitas personal yang jelas.

Kalau naluri indrawi itu kayak anak kecil yang seneng main ke mana-mana, naluri bentuk ini kayak orang tua yang selalu bilang: “Hei, jangan jauh-jauh, tetap inget pulang!”

Idealnya, dua naluri ini nggak saling ganggu. Kita bisa menikmati dunia dengan segala kekayaan indrawinya, tapi tetap punya diri yang solid, nggak larut sampai kehilangan arah.

Di titik inilah manusia bisa merasakan kebebasan paling tinggi sekaligus eksistensi paling utuh.

Seni sebagai Jembatan Harmonis

Nah, hubungan indah antara dua naluri ini bisa kita rasakan lewat pengalaman seni. Saat berhadapan dengan seni, manusia seperti “melihat dirinya sendiri” dalam versi terbaik.

Seni jadi semacam simbol yang nunjukkin kemungkinan tertinggi dari manusia.

Contoh gampangnya: ketika kita nonton film yang bikin merinding sekaligus terharu, atau lihat tarian tradisional yang indah banget. Kita nggak cuma melihat tapi juga merasa, dan di saat yang sama ada bagian dari diri kita yang bilang: “Wah, ternyata manusia bisa setinggi ini ya rasa dan ciptaannya.”

Lahirnya Naluri Bermain

Dari pertemuan dua naluri dasar itu, lahirlah yang disebut Schiller sebagai naluri bermain. Nah, ini menarik: naluri bermain bukan sekadar main-main iseng, tapi kondisi ketika manusia benar-benar bebas.

Naluri bermain membuat kita bisa “menyambut dunia” sekaligus “menciptakan dunia” tanpa tertekan, baik oleh kebutuhan jasmani maupun aturan moral yang kaku.

Dalam kondisi ini, kita jadi manusia seutuhnya: bisa menikmati sekaligus mencipta, bisa merasa sekaligus berpikir.

Contohnya, ketika kita jatuh cinta sama seseorang. Kalau cuma tertarik secara jasmani, kita kayak “di taklukkan” oleh alam.

Kalau cuma hormat karena logika dan akal, kita kayak “di taklukkan” oleh moral. Tapi kalau dua-duanya hadir bareng—ada simpati sekaligus rasa hormat—di situlah cinta terasa bebas.

Dan Schiller menyebut momen itu sebagai bentuk “bermain” yang paling manusiawi.

Bermain, Tapi Bukan Sembarangan

Jadi, bagi Schiller, “bermain” bukan berarti malas-malasan atau buang waktu. Justru di situ manusia menemukan kebebasan sejati.

Bermain dalam arti ini adalah ruang di mana akal dan rasa nggak saling ngerecokin, tapi saling ngisi. Kayak duet yang serasi: satu nyanyi melodi, satu lagi harmoninya.

Kalau di bawa ke konteks sekarang, mungkin kita bisa bilang: orang yang bisa menyeimbangkan kerja serius dengan ruang bermain kreatif itu biasanya lebih bahagia dan produktif.

Nggak heran banyak perusahaan modern sekarang bikin ruang kerja dengan meja pingpong atau pojok musik karena mereka tahu, naluri bermain bikin otak dan hati manusia tetap waras.

Bermain sebagai Puncak Kemanusiaan

Filosof Friedrich Schiller, dengan meminjam inspirasi dari Kant, sengaja memilih kata bermain buat menandingi keseriusan dua naluri dasar manusia.

Naluri materi serius banget ngejar realitas, sementara naluri bentuk ngotot menuntut akal budi dan martabat. Dua-duanya bikin kita tegang. Nah, permainan hadir untuk mencairkan ketegangan itu.

Buat Schiller, manusia justru jadi sempurna saat bermain. Kita baru benar-benar “jadi manusia seutuhnya” ketika bisa main.

Bukan main-main kosong ya, tapi main dalam arti membiarkan diri bebas dari paksaan alam maupun aturan moral yang kaku.

Dalam ruang estetis, kita nggak lagi di taklukkan alam, juga nggak di paksa tunduk oleh akal budi. Di titik inilah kita merasakan kebebasan.

Seni, dengan ilusi dan keindahannya, menciptakan dunia alternatif—dunia mainan yang justru bikin kita sadar akan potensi terdalam kita.

Keindahan sebagai Jalan Menuju Kebebasan

Schiller menegaskan: seni sejati bukan tentang menggurui atau mengindoktrinasi. Kalau seni cuma sibuk nyuruh-nyuruh atau sengaja merangsang emosi tertentu, itu malah merusak kebebasan batin.

Seni yang sejati justru membuka ruang bermain tempat di mana manusia bisa melepaskan beban, menemukan dirinya, dan mencipta kenyataannya sendiri.

Dari situlah lahir kemungkinan sebuah masyarakat yang indah: masyarakat di mana kebebasan pribadi nggak berarti membatasi kebebasan orang lain.

Sebaliknya, setiap individu sadar akan keindahan dirinya, lalu berhubungan dengan orang lain secara bebas tapi tetap harmonis.

Alam Ketiga: Dunia Permainan

Filosof Friedrich Schiller bahkan membayangkan ada “alam ketiga” selain alam fisik yang keras dan alam hukum yang kaku.

Alam ketiga ini adalah alam permainan alam ilusi yang riang tempat manusia merasakan kebebasan sejati tanpa terikat paksaan jasmani maupun moral.

Dan dari sinilah kesimpulan pamungkas Schiller lahir: satu-satunya jalan menuju kebebasan, termasuk kebebasan politik, adalah lewat keindahan.

Dengan kata lain, seni dan estetika bukan sekadar pemanis hidup, tapi justru fondasi yang bisa bikin manusia lebih merdeka, lebih beradab, dan lebih manusiawi.

Main-main yang Serius

Kalau di terjemahkan ke zaman sekarang, Schiller mungkin lagi ngopi di warkop sambil bilang: “Bro, jangan anggap remeh main-main. Kadang justru di situ manusia jadi paling serius sebagai manusia.”

Dan mungkin benar, karena tanpa ruang bermain—entah itu lewat seni, musik, sastra, atau sekadar imajinasi—kita bakal kehilangan sisi yang bikin hidup ini terasa manusiawi.


Pengulas: Baso Marannu, owner pengembang website RAHASIA (https://ragamhiasindonesia.id ) saat ini sebagai peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *