Mengolah Desain Secara ‘Radikal’: Saatnya Main Lebih Berani

posted in: RAGAM HIAS | 0
Mengolah Desain Secara ‘Radikal’: Saatnya Main Lebih Berani

Kenyataan yang bikin desainer geleng-geleng kepal

Mengolah Desain Secara ‘Radikal’. Sebagaimana aku tulis di artikel sebelumnya, keindahan desain komunikasi visual itu nggak cuma lahir dari software keren atau kemampuan teknis yang mumpuni.

Di balik tampilan yang bikin mata “cling”, ada elemen desain dan prinsip dasar yang sering kali kita remehkan padahal dia adalah roh dari karya itu sendiri.

Keseimbangan, keserasian, proporsi, skala, sampai irama lima prinsip desain yang seharusnya jadi “jurus pamungkas” malah sering cuma mampir di buku teori.

Padahal, kalau kamu tahu cara “mengolahnya secara radikal”, desainmu bisa meloncat dari sekadar oke jadi wah, ini siapa yang buat?!

Mengapa demikian, perkembangan media dan tekonologi serta kecepatan informasi membuat para kreator sedikit ‘bebas’ bahkan ‘radikal’ mengekspresikan apa yang menjadi prinsip desain. 

Sah-sah saja, bahkan ‘liarnya’ ekspresi tersebut menunjukkan bahwa kita memasuki era hyper-creative.

Baca juga: Mengelola Estetika Elemen Desain: Biar Kerasa Indahnya

Mengolah Desain Secara ‘Radikal’. Kenyataan yang bikin desainer geleng-geleng kepal

Nah, dari tabel di atas, kamu bisa lihat kan kalau prinsip desain itu sebenarnya nggak kaku? Justru, mereka bisa jadi bahan eksperimen seru yang bikin karya kamu punya personal touch.

Kalau boleh jujur, banyak desainer muda sekarang terjebak di zona nyaman: takut nyoba hal “radikal” karena khawatir di bilang nyeleneh. Padahal, justru di situ letak magic-nya! Desain yang terlalu aman itu kayak kopi tanpa gula, pahit tapi datar. Tapi kalau kamu tahu cara mainin prinsipnya, hasilnya bisa kaya rasa, berlapis, dan punya karakter yang bikin orang bilang, “ini sih khas banget!”

Jadi, daripada terus terjebak dengan teori yang cuma jadi hafalan, kenapa nggak mulai “berantem manis” dengan prinsip desain itu sendiri? Kadang, karya terbaik justru lahir dari pelanggaran yang cerdas.

Ketika Segalanya Serba Viral, Desainer Harus Secepat Kopi Dingin di Meja!

Mengolah Desain Secara ‘Radikal’. Konon, sesuatu yang viral di media sosial itu umurnya cuma seumur jagung—eh, bahkan mungkin lebih pendek dari itu.

Kadang baru sempat scroll setengah timeline, eh… udah muncul tren baru lagi. Di Twitter (atau X, kalau kamu mau nyebut versi seriusnya), topik hangat bisa lenyap dalam hitungan jam.

Di Instagram apalagi—postingan yang pagi kelihatan “wah banget”, malamnya udah tenggelam sama reels kucing joget.

Nah, di tengah dunia yang secepat ini, pertanyaannya: gimana peran kreator bisa tetap relevan dan mengolah prinsip desain secara baik dan bijak?

Sementara tuntutan netizen? Jangan di tanya! Kadang rasanya kayak lagi lomba lari marathon tapi garis finisnya terus di geser ke depan.

Biar nggak ikut terseret arus “trending yang fana”, kreator harus ngerti gimana caranya main cerdas pakai prinsip desain bukan sekadar ikut-ikutan tren, tapi tahu kapan harus ngegas dan kapan harus ngerem.

Desain itu bukan cuma tentang siapa yang paling cepat bikin konten, tapi siapa yang paling bisa ngasih makna lewat visualnya.

Mengolah Desain Secara ‘Radikal’. Ketika Segalanya Serba Viral, Desainer Harus Secepat Kopi Dingin di Meja!

Nah, dari situ kelihatan kan? Dunia digital boleh cepat, tapi desain nggak harus ikut-ikutan panik.

Prinsip desain tetap jadi “kompas” yang bantu kamu arahkan karya supaya nggak cuma numpang lewat di explore page, tapi benar-benar nempel di hati orang.

Jadi, daripada kejar viral yang cuma sebentar, kenapa nggak bikin desain yang berumur panjang? Desain yang nggak cuma “ramai hari ini”, tapi juga bisa jadi referensi orang lain besok.

Karena kalau di pikir-pikir, yang abadi di dunia kreatif bukan yang paling cepat tapi yang paling berkarakter.

Kreator Zaman Sekarang: Nggak Cukup Bisa Bikin, Harus Tahu Apa yang Pantas Dibikin

Mengolah Desain Secara ‘Radikal’. Sekarang ini, jadi kreator itu nggak bisa lagi cuma modal “bisa bikin”. Zaman sudah berubah, Bos!

Dunia digital nggak lagi ngasih panggung buat yang asal bisa, tapi buat mereka yang tahu apa yang seharusnya di buat. Nggak ada alasan untuk diam, karena kalau kamu diam, algoritma pun bisa lupa kamu pernah eksis.

Nah, ngomongin soal “mengolah desain secara radikal”, ini bukan sekadar gaya atau tren sesaat. Fenomena ini udah kayak jamur tumbuh di musim hujan menyebar di mana-mana, dari feed Instagram sampai tampilan billboard di jalanan.

Tapi tenang dulu, sebelum kamu ikut-ikutan bikin desain yang “aneh biar viral”, mending kita bahas dulu kenapa sih tren desain radikal ini terus berkembang?

Kreator Zaman Sekarang: Nggak Cukup Bisa Bikin, Harus Tahu Apa yang Pantas Dibikin

Kalau di pikir-pikir, tiga hal di atas itu ibarat bahan bakar utama para kreator masa kini. Mereka nggak mau cuma jadi “tukang gambar”, tapi pengen jadi pencipta pengalaman visual yang bikin orang berhenti scrolling.

Tapi tentu aja, mengolah desain secara radikal itu nggak berarti asal beda. Harus tetap ada dasar dan arah yang jelas. Radikal itu keren, asal bukan ngawur. Karena kalau semua orang ngaku radikal tapi hasilnya bikin pusing tujuh keliling, ya sama aja kayak minum kopi tiga gelas tapi nggak dapat inspirasi apa-apa.

Kuncinya ada di keseimbangan antara keberanian dan kesadaran estetika.
Berani menantang arus, tapi tetap tahu kapan harus berenang ke tengah biar nggak tenggelam.


Pengulas: Baso Marannu, owner pengembang website RAHASIA (https://ragamhiasindonesia.id ) saat ini sebagai peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *