Netizen: Warga Dunia Maya yang Nggak Kenal Waktu
Dari Imajinasi ke Eksploitasi. Kalau dulu orang berkumpul di balai desa, sekarang semua pindah ke “balai maya” bernama media sosial.
Jan A.G.M. Van Dijk seorang pemikir keren asal Belanda pernah bilang dalam bukunya The Reality of Virtual Communities (1997), bahwa masyarakat virtual alias netizen itu hidup tanpa batas ruang dan waktu.
Mereka bisa nongkrong bareng walau beda benua, beda waktu, bahkan kadang belum pernah ketemu sama sekali.
Tapi yang menarik, mereka nggak cuma nongkrong. Netizen itu berinteraksi, berbagi informasi, sampai bikin gerakan sosial. Kadang bisa kompak banget, kadang juga bisa ribut kayak pasar pagi.
Dan yang lebih seru lagi, mereka “diciptakan” di dalam jaringan komputer artinya, eksistensi mereka hidup dan berdenyut lewat sinyal, klik, dan notifikasi.
Kalau dipikir-pikir, dunia virtual itu mirip banget sama kampung besar tanpa batas. Ada yang suka kasih kabar baik, ada yang sibuk debat, ada juga yang cuma jadi penonton setia di kolom komentar.
Nah, biar lebih gampang ngebayangin seperti apa kehidupan “masyarakat maya” ini, coba lihat tabel seru di bawah ini.
Baca juga: Teori Kritik Sosial terhadap Globalisasi: Seni kerajinan di Indonesia
Lucunya, kelima tipe itu bisa hidup dalam satu orang. Kadang kita jadi pengamat, besoknya jadi pendebat, lusa tiba-tiba semangat bikin konten edukasi.
Baa juga: 9 Kerajinan khas Jepang: Ada yang sudah ratusan tahun
Dunia maya memang kayak panggung besar kita bisa ganti peran kapan aja.
Tapi di balik semua itu, satu hal yang nggak boleh dilupakan: netizen adalah cermin dari masyarakat nyata. Apa yang kita lakukan di dunia virtual, sebenarnya mencerminkan cara kita berpikir di dunia nyata.
Bedanya cuma, di sini semua terjadi lebih cepat, lebih ramai, dan… kadang lebih drama.
Maha Benar Netizen dengan Segala Komentarnya
Dari Imajinasi ke Eksploitasi. Pernah nggak sih kamu baca komentar netizen yang bikin kamu pengen tepuk jidat sambil ngakak?
Aku pernah nemu satu kalimat yang sarkas tapi jujur banget: “Maha benar netizen dengan segala ungkapannya.”
Lucu, tapi juga agak nyesek, karena kadang netizen memang bisa lebih cepat menilai daripada berpikir.
Setiap hari, dunia maya kayak panggung besar yang penuh drama: ada yang bikin kita kaget, sedih, geli, bahkan kadang marah tanpa sebab.
Semua itu muncul dari satu hal fenomena “shockfuture”, atau rasa kaget karena realitas digital bergerak lebih cepat dari kemampuan kita mencerna.
Bayangin aja, baru bangun tidur, buka HP, eh udah rame lagi isu baru. Dunia nyata kalah cepat sama dunia maya!
Nah, di tengah arus informasi yang deras banget itu, ada satu hal menarik: otak kanan manusia modern lagi berjaya.
Yup, ini bukan sembarang teori. Daniel H. Pink dalam bukunya A Whole New Mind bilang, kita sedang berpindah dari Zaman Informasi ke Zaman Konseptual era di mana kreativitas, empati, dan imajinasi lebih penting daripada sekadar data dan logika.
Artinya apa?
Sekarang, orang yang bisa membaca emosi, memahami ekspresi nonverbal, dan mengenali pola dengan cepat justru punya nilai lebih.
Bukan cuma jago mikir, tapi juga peka terhadap rasa.
Dan kalau kamu perhatikan, inilah kenapa dunia digital penuh warna dan ide nyeleneh. Netizen zaman sekarang pakai otak kanan mereka semaksimal mungkin kadang buat karya, kadang… buat komentar yang bikin geger.
Coba lihat tabel di bawah ini. Aku bikin biar kamu bisa ngerasain perbedaan antara “Era Otak Kiri” dan “Era Otak Kanan” yang sedang kita jalani sekarang
Sekarang, siapa pun bisa jadi “seniman digital” cukup modal empati dan ide liar. Tapi hati-hati juga, karena otak kanan yang terlalu dominan tanpa arah bisa bikin seseorang kebablasan. Kadang niatnya lucu, eh malah menyinggung; mau kreatif, malah kelewat absurd.
Tapi di situlah menariknya. Dunia maya hari ini adalah laboratorium besar tempat jutaan otak kanan bereksperimen.
Ada yang gagal, ada yang viral, dan ada juga yang bikin sejarah.
Dan jujur aja, tanpa keberanian para netizen “nakal” itu, dunia digital kita mungkin akan terasa hambar dan membosankan.
Ketika Kreativitas Punya Saudara Kembar
Dari Imajinasi ke Eksploitasi. Jadi gini… kalau kamu heran kenapa berita hoaks bisa menyebar sekencang promo 11.11, jawabannya simpel: itu karena memang sudah kodratnya dunia maya.
Ada sisi terang, pasti ada sisi gelap. Ada yang pakai kreativitas buat bikin karya keren, tapi ada juga yang pakai buat nyebar drama, fitnah, dan teori konspirasi paling absurd yang bisa kamu bayangin.
Lucunya, dua hal ini kreativitas positif dan kreativitas destruktif kayak pasangan yang nggak bisa dipisahkan.
Mereka jalan bareng, meski arahnya beda jauh. Kalau kreativitas positif ngajak kita naik level, si destruktif malah bikin kita muter-muter di jalan buntu.
Tapi, suka nggak suka, keduanya tetap eksis di dunia netizen.
Coba deh lihat tabel sederhana ini. Biar lebih gampang ngebedain dua jenis kreativitas yang sering wara-wiri di jagat maya:
Nah, dari sini kelihatan kan? Dunia digital itu kayak pasar malam. Ada yang jual lampu warna-warni, ada juga yang jual petasan. Dua-duanya rame, tapi efeknya beda.
Menurutku, tugas kita sebagai netizen melek zaman bukan cuma ikut tren, tapi juga tahu kapan harus scroll, kapan harus stop. Karena kadang, bukan hoaksnya yang bahaya — tapi rasa pengin cepet nyebarin sesuatu tanpa mikir dua kali.
Otak Kiri vs Otak Kanan
Dari Imajinasi ke Eksploitasi. Kalau ngomongin soal otak, sebenarnya kita semua punya dua “penghuni” di kepala yang kadang kayak duo pelawak: satu serius banget, satu lagi santai tapi penuh ide. Robert Ornstein, si ahli saraf yang nulis buku The Right Mind, pernah bilang bahwa dua sisi otak kita itu kayak pasangan duet yang selalu punya gaya sendiri-sendiri dalam menyikapi hidup.
Biar gampang, bayangin gini:
Otak kiri itu kayak akuntan rapi, detail, dan suka banget ngitungin hal kecil sampai koma terakhir.
Sementara otak kanan itu kayak seniman jalanan liar, spontan, dan bisa lihat makna dari hal-hal yang orang lain anggap sepele.
Tapi jangan salah, dua-duanya penting. Tanpa otak kiri, dunia bisa chaos. Tanpa otak kanan, hidup bisa hambar kayak bubur tanpa sambal.
Nah, biar kamu makin paham perbedaan karakter mereka, coba lihat tabel berikut yang lebih seru dari sekadar hafalan teori:
Nah, keren kan? Otak kiri fokus pada apa dan bagaimana caranya, sementara otak kanan sibuk mikirin kenapa dan apa maknanya.
Yang satu sibuk nyusun potongan puzzle, yang satu udah lihat gambar utuhnya duluan.
Dan lucunya, kadang mereka bisa saling berantem di kepala kita. Misalnya, otak kiri bilang, “Jangan posting dulu, caption belum rapi!” tapi otak kanan udah teriak, “Udah, upload aja, mumpung mood-nya dapet!”
Hayo, kamu lebih sering denger suara yang mana?
Yang jelas, menurut Ornstein, keduanya nggak bisa jalan sendiri. Otak kiri kasih struktur, otak kanan kasih warna. Jadi kalau pengin hidup yang balance kerjaan lancar tapi tetap kreatif ya harus bisa bikin keduanya akrab, bukan malah rebutan panggung.
Pengulas: Baso Marannu, owner pengembang website RAHASIA (https://ragamhiasindonesia.id ) saat ini sebagai peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Tinggalkan Balasan