Apresiasi seni rupa. Kalau dipikir-pikir, Tuhan itu memang luar biasa ya, karena setiap manusia dikasih “rasa keindahan” alias sense of beauty.
Nah, uniknya, rasa ini nggak ada duanya, tiap orang punya selera sendiri. Ada yang lihat sebuah lukisan langsung bilang, “Wah, keren banget!”, tapi ada juga yang nyeletuk, “Lah, ini apaan sih?” Padahal yang ngomong sama-sama manusia juga.
Jadi, jangan kaget kalau satu karya seni bisa dapat dua komentar ekstrem sekaligus, ibarat makan coto Makassar: ada yang ketagihan, ada juga yang nggak kuat sama aromanya kuahnya dengan bumbu yang pekat.
Baca juga: Ragam Hias dalam Teori Semiotika Charles Sanders Pierce
Pengertian Apresiasi Seni Rupa
Apresiasi seni rupa. Nah, kemampuan kita buat ngerasain indahnya sebuah karya seni ternyata nggak jatuh dari langit gitu aja, tapi terbentuk dari pengalaman.
Misalnya, orang yang sering nongkrong di galeri seni pasti punya cara menilai lukisan yang beda dengan orang yang biasanya nongkrong di warkop.
Pengalaman inilah yang jadi modal buat kita paham, menghargai, bahkan mengkritik karya seni. Dan dari situlah lahir apa yang biasa disebut apresiasi seni.
Jadi, kalau ada teman yang bilang, “Ah, aku nggak ngerti seni,” sebenarnya dia cuma belum terbiasa ngasih ruang buat pengalaman itu.
Siapa tahu, besok-besok malah jadi kolektor patung abstrak atau rajin bikin mural di tembok rumah tetangga (asal jangan lupa izin dulu, ya).
Apresiasi Bukan Basa-basi: Katakan yang Jujur, Tapi Santun
Apresiasi seni rupa. Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata apresiasi itu artinya penilaian atau penghargaan. Kedengarannya serius banget, ya? Tapi sebenarnya, apresiasi itu nggak serumit definisi kamus.
Simpelnya, apresiasi itu kegiatan kita buat mengenali, menilai, dan menghargai sebuah karya seni. Dan menariknya, penilaian itu bisa positif atau negatif.
Jadi, kalau ada yang bilang “wah, masterpiece!”, sementara yang lain komentar “ah, ini mah biasa aja,” ya dua-duanya sah.
Tapi begini, ada satu hal penting: kita nggak bisa ngasih apresiasi cuma karena “ini karya teman gue, harus gue puji.”
Nah, itu namanya bukan apresiasi, tapi basa-basi level dewa. Apresiasi yang sehat lahir dari hati, bukan dari rasa sungkan. Jadi, kalau memang bagus ya bilang bagus, kalau kurang cocok ya sampaikan dengan cara elegan, jangan malah jadi komentator pedas tanpa solusi.
Dari “Like” ke “Ngeh”: Belajar Menyelami Karya, Bukan Sekadar Mengklik
Kalau ditarik dari akar katanya, apresiasi itu datang dari bahasa Inggris to appreciate yang berarti menghargai, menyadari, sampai mengerti. Jadi, apresiasi itu bukan cuma ngomong “wah keren,” terus cabut.
Tapi lebih ke upaya kita menyelami nilai keindahan yang ditawarkan si pencipta karya. Ada getaran batin di situ, ada semacam “klik” antara kita dan karya yang kita lihat.
Dan menurut saya, di sinilah serunya dunia seni. Kadang karya seni bikin kita ketawa, kadang bikin kita bingung, kadang malah bikin kita mikir dalam.
Semua rasa itu bagian dari apresiasi. Jadi jangan takut buat jujur sama diri sendiri. Toh, yang namanya seni itu bukan soal benar atau salah, tapi soal bagaimana karya itu nyentuh sisi manusiawi kita.
Nah, sekarang pertanyaannya: sudahkah kita benar-benar menghargai karya seni di sekitar kita?
Atau jangan-jangan kita masih sibuk ngasih “like” asal-asalan di Instagram tanpa benar-benar ngeliat detailnya? Hehe, coba renungkan sebentar.
Kesadaran buat menilai estetika
Apresiasi seni rupa. Kalau buka New Webster’s Encyclopedic Dictionary, apresiasi diartikan sebagai the act of valuing or estimating, kegiatan menilai atau menafsirkan.
Tambahannya, apresiasi juga berarti awareness of aesthetic value, alias kesadaran buat menilai estetika.
Jadi, gampangnya, apresiasi seni itu kayak kegiatan kita menafsirkan makna dari sebuah karya seni, khususnya seni rupa, sampai akhirnya kita sadar dan bisa menghargai nilai yang ada di dalamnya.
Nah, Nooryan Bahari juga pernah bilang kalau apresiasi seni itu proses sadar. Artinya, kita nggak asal bilang “bagus” atau “jelek” tanpa mikir, tapi kita sengaja melibatkan pikiran, perasaan, bahkan intuisi buat memahami karya seni itu.
Dan lebih jauh lagi, mengapresiasi itu sebenarnya proses menafsirkan makna. Jadi, misalnya kamu lihat lukisan dengan warna-warna gelap, mungkin ada cerita kesedihan yang ingin disampaikan.
Atau, ketika kamu lihat patung kayu dengan ukiran detail, bisa jadi si seniman lagi nunjukin kesabaran dan ketekunannya.
Menurut saya pribadi, di sinilah letak asiknya seni. Setiap karya itu kayak kode rahasia yang butuh kita dekode. Nggak ada jawaban pasti, tapi selalu ada pengalaman baru. Sama kayak baca wajah orang: satu senyum bisa punya sejuta arti, tergantung siapa yang ngeliat.
Makanya, kalau kita belajar mengapresiasi seni, sebenarnya kita lagi belajar dua hal sekaligus: mengenali karya orang lain, dan mengenali diri kita sendiri.
Karena setiap tafsiran yang kita bikin seringkali lebih banyak ngomongin siapa diri kita, daripada siapa si seniman itu. Nah, seru kan?
Apresiasi Itu Bukan Duduk Manis
Banyak orang mikir apresiasi itu kerjaan pasif: lihat karya seni, terus kasih komentar singkat. Padahal, kata Fildman (1981), apresiasi itu proses aktif dan kreatif. Kita nggak bisa cuma duduk manis lalu asal nyeletuk, “wah bagus,” tanpa benar-benar masuk ke dalam karya itu.
John Dewey (1934) juga bilang kalau pengalaman estetik itu muncul dari proses penghayatan. Jadi, ketika kita beneran “hadir” waktu menikmati karya seni, di situlah lahir pengalaman yang bikin hati kita bergetar.
Rasanya mirip kayak nonton konser musik favorit: bukan cuma soal nada, tapi tentang suasana, momen, dan rasa yang nempel lama.
Belajar Ngobrol dengan Karya Seni
Seorang apresiator (ciee istilahnya!) idealnya ngerti unsur-unsur seni: mulai dari garis, bentuk, warna, sampai prinsip kayak keseimbangan atau harmoni.
Kalau ngerti dasarnya, kita bisa “ngobrol” lebih dalam dengan karya itu. Jadi nggak cuma bilang, “wah, warnanya cerah ya,” tapi bisa nyambung ke makna di baliknya.
Tujuan utama apresiasi jelas: biar kita tahu apa, bagaimana, dan apa maksud dari sebuah karya seni. Dengan kata lain, kita nggak cuma lihat permukaan, tapi juga bisa menanggapi, menghayati, dan menilai lebih dalam.
Tujuan Akhir: Bukan Cuma Indah, Tapi Bermakna
Nah, tujuan akhir sebuah karya seni itu bukan sekadar bikin orang bilang, “cantik.” Lebih dari itu, seni hadir untuk mengembangkan nilai estetis, mendorong kreasi, dan tentu aja menyempurnakan rasa kemanusiaan kita. Jadi, tiap kali kita mengapresiasi seni, sebenarnya kita juga sedang melatih kepekaan diri.
Makanya, kalau mau serius mengapresiasi seni rupa, kita perlu perhatikan unsur-unsurnya: tema, gaya, teknik, dan komposisi. Pengetahuan tentang seni rupa plus kepekaan perasaan itu kayak dua sayap burung—nggak bisa terbang kalau salah satunya patah. Dan wajar banget kalau tiap orang punya kemampuan apresiasi yang berbeda. Namanya juga pengalaman hidup tiap orang nggak sama, kan?
Semua Orang Bisa Jadi Apresiator
Jadi, kalau ada yang merasa minder dengan kalimat, “ah, gue nggak ngerti seni,” coba deh di ubah jadi, “gue belum biasa mengamati seni.” Karena pada dasarnya, semua orang bisa belajar jadi apresiator, asal mau melibatkan hati, pikiran, dan sedikit rasa penasaran.
Dan siapa tahu, dari sekadar coba-coba mengapresiasi, kita malah jadi terinspirasi buat berkarya. Minimal, hidup kita jadi lebih peka sama keindahan yang berseliweran di sekitar kita.
Realis vs Abstrak: Dua Dunia yang Sama-Sama Seru
Kalau ngomongin apresiasi, perlakuannya jelas beda antara karya seni realis dan abstrak. Karya realis biasanya gampang di identifikasi:
kita bisa langsung lihat sejauh mana seniman berhasil menangkap kenyataan. Misalnya, lukisan wajah orang tua dengan keriput detail banget sampai kayak foto—nah, di situ keliatan keahlian senimannya.
Tapi kalau udah masuk ke karya abstrak, ceritanya lain. Kita nggak bisa sekadar menilai “mirip atau nggak mirip” dengan dunia nyata.
Abstrak itu kayak dunia penuh kode, di mana seniman menuangkan gagasan lewat simbol, warna, atau bentuk yang nggak selalu logis. Nah, di sinilah di butuhkan ekstra kepekaan estetik, biar kita bisa menangkap hubungan antar unsur dalam karyanya.
Ibaratnya, kalau realis itu kayak baca novel dengan alur jelas, maka abstrak itu seperti baca puisi, kita harus siap menafsirkan.
Pendekatan Analitik: Ngulik Lebih Dalam
Salah satu cara buat mengapresiasi seni adalah lewat pendekatan analitik. Nah, ini mirip banget sama kritik seni, tapi bedanya lebih fokus buat ngulik isi karya secara mendalam.
Kita bisa bahas teknik, komposisi, tema, sampai pesan yang coba di sampaikan. Jadi, bukan cuma soal “bagus atau jelek,” tapi lebih ke “apa sih yang bikin karya ini punya bobot?”
Pendekatan Kognitif: Step by Step
Selain analitik, ada juga pendekatan kognitif. Kalau ini sifatnya lebih bertahap. Kita di ajak buat mengidentifikasi karya seni dari hal-hal paling dasar dulu, misalnya: apa temanya? teknik apa yang di pakai? unsur apa yang paling menonjol?
Dari situ, kita bisa naik level ke pemahaman yang lebih kompleks. Bisa di bilang, pendekatan kognitif itu kayak belajar naik motor: awalnya pelan-pelan, lama-lama makin lancar.
Pengulas: Baso Marannu, owner pengembang website RAHASIA (https://ragamhiasindonesia.id ) saat ini sebagai peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Tinggalkan Balasan