Bagaimana Teori Embeddedness: Dalam Seni dan Relasi Sosial

posted in: RAGAM HIAS | 0
Teori Embeddedness: Menghubungkan Seni dan Relasi Sosial

Bagaimana Teori embeddedness (Kholiq & Miftahuddin, 2017; Morehouse & Saffer, 2020) dalam konteks seni kerajinan menyoroti bagaimana praktik kreatif tidak pernah berdiri sendiri. Melainkan tertanam dalam relasi sosial, nilai, dan kebiasaan yang membentuk kehidupan masyarakat.

Namun, riset-riset sebelumnya cenderung menempatkan seni kerajinan sebagai entitas estetik yang otonom, terpisah dari jaringan sosial yang menghidupinya.

Kesenjangan ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih sensitif terhadap konteks sosial tempat kerajinan itu tumbuh dan berfungsi.

Di ruang baca perpustakaan yang sunyi, perjumpaan antara Nina, Rama, dan Prof. Suryana menjadi simbol pertemuan antara teori dan praktik. Antara refleksi akademik dan pengalaman hidup.

Momen ini menunjukkan bahwa proses intelektual dalam memahami embeddedness tidak hanya lahir dari teks dan konsep. Melainkan juga dari interaksi manusia yang alami dan berlapis makna.

Baca juga: Teori Embeddedness dalam Seni Kerajinan

Embeddedness sebagai Jembatan antara Teori dan Kehidupan Sosial

Dalam percakapan mereka, Teori embeddedness menjelma menjadi gagasan yang hidup tidak sekadar istilah dalam jurnal ilmiah. Tetapi cara memahami dunia seni kerajinan sebagai bagian dari jejaring sosial yang saling mengikat (Fahrimal, 2018; Rahmawati & Putri, 2022).

Di sinilah muncul celah penelitian baru: bagaimana praktik kerajinan tradisional di Indonesia dapat dibaca bukan hanya sebagai bentuk ekonomi kreatif. Tetapi juga sebagai ekspresi relasi sosial yang mendalam antara pembuat, material, dan lingkungan budaya.

Melalui dialog ringan yang hangat di ruang perpustakaan itu. Teori Granovetter menemukan bentuk praksisnya dari ukiran kayu hingga gelang tali rafia yang sarat makna simbolik.

Dengan demikian, embeddedness bukan lagi sekadar konsep analitis. Melainkan jembatan antara dunia akademik dan keseharian manusia yang penuh empati, humor, dan kebersamaan intelektual.

Teori Embeddedness sebagai Kritik terhadap Rasionalitas Ekonomi

Bagaimana Teori embeddedness yang diperkenalkan oleh Mark Granovetter (M. Granovetter, 1983; M. S. Granovetter, 1973) menjadi fondasi penting dalam memahami keterikatan antara tindakan ekonomi dan jaringan sosial yang menaunginya.

Selama ini, pendekatan ekonomi klasik cenderung memisahkan tindakan ekonomi dari dimensi sosial dan budaya. Seolah pasar berdiri di ruang yang netral dan steril.

Namun, kesenjangan pemahaman ini justru menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana nilai, makna, dan relasi sosial memengaruhi proses produksi dan distribusi karya. Terutama dalam konteks seni kerajinan yang sarat nilai budaya?

Granovetter mengisi kekosongan itu dengan menunjukkan bahwa setiap praktik ekonomi sesungguhnya terbenam (embedded). Dalam relasi sosial baik itu jaringan kepercayaan, norma lokal, maupun struktur kekuasaan yang membentuk cara manusia berinteraksi.

Dengan demikian, teori embeddedness menggeser cara pandang kita terhadap ekonomi dari sekadar sistem transaksi menuju sistem relasional yang hidup di antara manusia.

Relasi Sosial dan Ekologis dalam Proses Kreatif Seni Kerajinan

Dalam konteks seni kerajinan, embeddedness menegaskan bahwa sebuah karya tidak lahir dalam ruang kosong. Melainkan dalam jejaring sosial dan kultural yang kompleks.

Selama ini, riset-riset seni kerap menitikberatkan pada aspek estetika dan nilai ekonomi (Junaedi, 2016), namun jarang menggali keterkaitan sosial yang membentuk proses kreatif itu sendiri.

Kekosongan inilah yang penting diisi: bagaimana bentuk, motif, dan fungsi kerajinan mencerminkan cara masyarakat beradaptasi terhadap lingkungan dan perubahan sosial.

Misalnya, ketika perajin memilih pola yang meniru aliran air saat musim hujan atau motif retakan tanah saat kemarau, tindakan itu bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan representasi simbolik dari pengalaman ekologis kolektif.

Maka, embeddedness menjadi kunci untuk memahami bahwa seni kerajinan bukan hanya tentang produk, tetapi tentang relasi antara manusia, alam, dan makna yang mengikat keduanya dalam satu narasi sosial yang berkelanjutan.

Perdebatan Estetika dan Konteks Sosial dalam Seni Kerajinan

Perdebatan antara estetika dan konteks sosial telah lama menjadi medan tarik menarik dalam studi seni, terutama ketika karya ditempatkan dalam kerangka embeddedness sosial.

Di satu sisi, estetika sering dianggap sebagai ukuran universal atas keindahan dan nilai artistik, sementara di sisi lain, konteks sosial dan budaya memberikan makna yang bersifat lokal, relasional, dan historis.

Kesenjangan muncul ketika penilaian seni terjebak pada dua kutub ekstrem: formalisme yang menafikan akar sosial, dan relativisme budaya yang mengabaikan struktur bentuk dan teknik.

Dalam penelitian-penelitian seni kerajinan, ketegangan ini tampak jelas, apakah nilai keindahan terletak pada komposisi visualnya atau pada kisah dan relasi sosial yang melingkupinya?

Pertanyaan ini mengajak kita untuk meninjau ulang asumsi dasar bahwa keindahan bersifat objektif dan universal.

Dengan demikian, perdebatan estetika dalam konteks sosial bukan sekadar persoalan “apa yang indah”, melainkan “mengapa sesuatu dianggap indah” oleh suatu komunitas tertentu.

Menyatukan Estetika dan Embeddedness dalam Pemaknaan Seni

Dalam konteks seni kerajinan, penting untuk melihat bahwa estetika dan embeddedness bukanlah dua entitas yang saling meniadakan, melainkan dua lapisan makna yang berkelindan.

Celah penelitian yang sering muncul ialah kurangnya pendekatan yang mengintegrasikan keduanya dalam kerangka interpretatif yang seimbang.

Karya kerajinan tidak dapat dilepaskan dari keindahan formalnya warna, tekstur, dan teknik namun keindahan tersebut hanya memperoleh makna penuh ketika di kaitkan dengan pengalaman sosial dan emosional para pembuatnya.

Misalnya, anyaman bambu dengan motif air mengalir bukan sekadar permainan garis, melainkan representasi simbolik dari hubungan manusia dengan alam.

Maka, keindahan sejati tidak hanya dilihat melalui kepekaan estetis, tetapi juga melalui pemahaman terhadap pengalaman kolektif yang melatarinya.

Kesimpulannya, perdebatan estetika dalam konteks sosial justru memperkaya pemahaman kita tentang seni kerajinan bahwa keindahan bukanlah hasil isolasi bentuk, melainkan hasil dialog antara rasa, makna, dan kehidupan yang menghidupinya.

Kontekstualisasi Seni Kerajinan Lokal di Tengah Globalisasi

Kontekstualisasi seni kerajinan lokal menjadi kunci untuk memahami bagaimana nilai budaya dan identitas sosial terjalin dalam praktik kreatif masyarakat.

Selama ini, studi tentang seni kerajinan cenderung menyoroti dua sisi ekstrem: tradisi yang di anggap statis versus modernitas yang di anggap progresif.

Celah pemahaman muncul ketika penelitian gagal melihat bahwa transformasi kerajinan tidak selalu berarti kehilangan akar tradisi, melainkan justru memperluas ruang maknanya.

Fenomena seperti batik kontemporer di Yogyakarta menunjukkan bagaimana seniman lokal mampu menegosiasikan nilai tradisional dan gaya urban tanpa kehilangan filosofi motif dan teknik pewarnaan alami.

Proses ini bukan hanya bentuk adaptasi estetika, tetapi juga strategi kultural yang menegaskan bahwa identitas lokal dapat terus hidup dalam arus globalisasi.

Dengan demikian, kontekstualisasi seni kerajinan membuka ruang dialog antara kontinuitas tradisi dan dinamika modernitas yang saling memperkaya.

Makna Sosial dan Spiritual dalam Kerajinan Tradisional Indonesia

Lebih jauh, praktik seni kerajinan di berbagai daerah Indonesia memperlihatkan bahwa makna karya tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada sistem sosial, spiritual, dan simbolik yang melingkupinya.

Kesenjangan penelitian sering kali muncul ketika dimensi-dimensi non-material seperti ritual, etika, dan nilai sakral diabaikan dalam analisis ekonomi dan estetika.

Kasus topeng Cirebon, misalnya, memperlihatkan adanya hierarki makna antara topeng yang di buat untuk upacara adat dan versi komersial yang di jual untuk wisatawan.

Kedua bentuk itu tidak sekadar menunjukkan diferensiasi pasar, melainkan cerminan embeddedness budaya bagaimana nilai spiritual, sosial, dan ekonomi dapat berinteraksi secara berlapis dalam satu praktik kreatif.

Kesimpulannya, kontekstualisasi seni kerajinan lokal menegaskan bahwa setiap produk budaya adalah narasi hidup; ia tidak berhenti pada fungsi atau rupa, tetapi berlanjut sebagai jembatan antara manusia, lingkungan, dan sistem nilai yang menuntun kehidupannya.

Tantangan dan Paradoks Masa Depan Seni Kerajinan

Masa depan seni kerajinan menghadirkan paradoks antara pelestarian dan transformasi.

Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kian cepat, seni kerajinan menghadapi tekanan untuk menyesuaikan diri dengan logika pasar global yang menuntut efisiensi, estetika komersial, dan daya jual tinggi.

Celah penelitian muncul ketika pergeseran ini belum sepenuhnya di pahami dalam konteks sosial budaya yang lebih luas: bagaimana nilai-nilai lokal dan relasi sosial para perajin dapat bertahan di tengah ekspansi industri kreatif yang semakin terstandar?

Dalam situasi ini, seni kerajinan tidak sekadar menghadapi persoalan ekonomi, tetapi juga tantangan eksistensial antara menjadi komoditas atau tetap menjadi ekspresi identitas kolektif.

Maka, perbincangan tentang masa depan seni kerajinan tidak cukup berhenti pada strategi adaptasi pasar, melainkan harus menyentuh upaya mempertahankan jiwa sosial yang melekat di balik setiap proses penciptaan.

Menjaga Akar Tradisi di Era Digitalisasi Seni Kerajinan

Pada tataran praksis. Masa depan seni kerajinan bergantung pada kemampuan masyarakat dan pembuatnya dalam menjaga keseimbangan antara inovasi dan akar tradisi.

Penelitian sering kali menyoroti inovasi material dan teknologi, tetapi jarang mengkaji dimensi relasional yang menopang keberlanjutan makna dari suatu karya.

Di era digital, praktik kerajinan mulai bergeser ke ruang daringmedia sosial, marketplace. Hingga platform pameran virtual yang tidak hanya mengubah cara jual beli. Tetapi juga cara masyarakat memaknai nilai autentik (Antara et al., 2025; Delijar et al., 2024).

Dalam kerangka embeddedness, masa depan seni kerajinan idealnya tidak diukur dari seberapa jauh ia menembus pasar global. Melainkan seberapa dalam ia tetap tertanam dalam relasi manusia, tradisi, dan narasi kebudayaan.

Dengan demikian, keberlanjutan seni kerajinan bukan sekadar tentang mempertahankan bentuk lama, tetapi tentang menumbuhkan kesadaran baru. Bahwa kreativitas sejati tumbuh dari keterikatan, bukan keterputusan.


Pengulas: Baso Marannu, pengembang website RAHASIA (https://ragamhiasindonesia.id) pemerhati kreativitas seni rupa kontemporer. Aktivitas sebagai peneliti pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)


Bahan bacaan

Antara, P. A., Sudirtha, I. G., & Wirawan, M. A. (2025). Digitalisasi Manajemen dan Pemasaran Produk Seni Kerajinan Songket dan Endek Penglatan. International Journal of Community Service Learning, 9(1).

Delijar, R. M., Endrayanto, N., Octavia, N. S., Bagaskara, A. S. D., & Zacharias, S. S. S. (2024). Digitalisasi Topeng Panji Asmorobangun sebagai Upaya Pengembangan Pusat Kerajinan Berkelanjutan. Jurnal Gramaswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(3), 301–314.

Fahrimal, Y. (2018). Netiquette: Etika jejaring sosial generasi milenial dalam media sosial.

Granovetter, M. (1983). The strength of weak ties: A network theory revisited. Sociological Theory, 201–233.

Granovetter, M. S. (1973). The strength of weak ties. American Journal of Sociology, 78(6), 1360–1380.

Junaedi, D. (2016). Estetika: jalinan subjek, objek, dan nilaI. ArtCiv.

Kholiq, D. A., & Miftahuddin. (2017). Effect of Job Embeddedness , Job Satisfaction , and Organizational Commitment on. Journal of Psychology, 5(1).

Morehouse, J., & Saffer, A. J. (2020). The knowledge construction network of engagement research: Examining scholars’ star collaborators, embeddedness, and influence. Public Relations Review, 46(3). https://doi.org/10.1016/j.pubrev.2020.101924

Rahmawati, I., & Putri, Y. A. (2022). STRATEGI PENGUATAN JEJARING SOSIAL DI KAMPUNG LAMPION MALANG. Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia, 5(3).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *