Perempuan Suku Karen di Thailand. Kalau ada lomba tradisi paling unik di dunia, Suku Karen pasti jadi salah satu kandidat kuat. Bayangin aja, mereka punya kebiasaan memanjangkan leher pakai cincin kuningan.
Dan bukan cuma satu atau dua cincin, tapi bisa belasan sampai puluhan yang bikin leher terlihat menjulang bak tiang listrik, eh, tapi versi cantiknya ya.
Awalnya, Suku Karen ini berasal dari dataran tinggi Tibet. Tapi zaman berubah, migrasi terjadi, dan sekarang mereka banyak tinggal di Thailand bagian utara, tepatnya di sebuah desa wisata bernama Baan Tong Luang, bersama tujuh suku lainnya.
Sebagian ada juga di Myanmar, tepatnya di daerah Pet Pan. Dari luar, tradisi ini mungkin kelihatan ekstrem, bahkan bikin orang bertanya-tanya: “Kenapa sih mereka mau repot-repot masang cincin berat di leher?”
Tapi buat mereka, ini bukan sekadar gaya-gayaan. Cincin kuningan yang melilit leher punya arti besar: simbol kecantikan, status sosial, sekaligus jati diri.
Baca juga: Kerajinan Gerabah di Indonesia: Dari Tradisi Hingga Modern
Cantik Versi Mereka: Makin Panjang Leher, Makin Terpandang
Sejak masih belia, perempuan Suku Karen sudah mulai dikenalkan dengan tradisi ini. Biasanya ketika anak perempuan berusia 5 tahun, mereka mulai dipasangi beberapa cincin. Seiring bertambahnya umur, jumlah cincin itu juga makin banyak.
Akhirnya, leher mereka tampak memanjang. Walaupun secara medis sebenarnya bukan leher yang memanjang, melainkan bahu yang menurun karena tekanan cincin. Tapi buat orang luar, hasilnya tetap terlihat seperti leher yang panjang menjulang.
Nah, inilah definisi kecantikan versi Suku Karen: makin panjang leher, makin cantik seorang perempuan. Cantik bukan cuma soal wajah mulus atau tubuh langsing, tapi benar-benar tradisi yang sudah mereka yakini sejak ratusan tahun lalu.
Kita yang terbiasa dengan standar cantik ala K-Pop atau Eropa mungkin bengong, “Lah, kok beda jauh ya?” Tapi ya begitulah menariknya tradisi—setiap budaya punya cara unik sendiri dalam memaknai kata indah.
Antara Kebanggaan dan Martabat
Perempuan Suku Karen di Thailand. Buat perempuan Suku Karen, cincin kuningan ini lebih dari sekadar aksesoris. Ia adalah tanda kebanggaan, status sosial, bahkan martabat. Semakin panjang leher, semakin terpandang pula kedudukannya di komunitas.
Orang-orang akan menghormati, mengagumi, bahkan menjadikannya contoh. Jadi kalau ada pepatah “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, perempuan Karen seakan bilang, “Nggak apa-apa berat, yang penting martabat!”
Tradisi ini juga jadi pengikat mereka dengan leluhur. Di balik cincin itu ada doa, ada cerita, ada identitas yang membuat mereka tetap merasa bagian dari sejarah besar Suku Karen. Jadi jangan heran kalau meskipun zaman sudah modern, sebagian perempuan masih setia memakai cincin kuningan itu sepanjang hidupnya.
Ketika Tradisi Bertemu Pariwisata
Di sisi lain, tradisi ini kini juga jadi magnet pariwisata. Desa-desa Suku Karen ramai didatangi wisatawan yang penasaran pengin lihat langsung wanita berleher panjang.
Foto-foto mereka sering muncul di brosur wisata, feed Instagram, bahkan jadi ikon eksotis Thailand utara.
Tapi, ya namanya juga zaman sekarang, selalu ada pro dan kontra.
Ada yang bilang tradisi ini di eksploitasi jadi tontonan turis. Ada pula yang berargumen kalau pariwisata justru membantu ekonomi Suku Karen.
Jadi sebenarnya, siapa yang di untungkan? Nah, itu topik panjang yang sering jadi perdebatan di dunia antropologi.
Yang jelas, ketika kamu datang ke desa Suku Karen, jangan cuma datang sebagai turis yang cuma jepret foto lalu cabut.
Cobalah ngobrol, dengarkan cerita mereka, atau beli kerajinan tangan yang mereka buat. Itu cara sederhana tapi berarti untuk menghargai budaya sekaligus membantu ekonomi mereka.
Antara Cantik dan Nyeri
Perempuan Suku Karen di Thailand. Sekarang mari kita ngomong sedikit realistis. Bayangin aja, cincin-cincin itu beratnya bisa sampai beberapa kilogram. Di pakai seharian, bertahun-tahun.
Wajar kalau kadang perempuan Suku Karen merasa pegal, bahkan ada risiko kesehatan di tulang dan otot. Tapi menariknya, banyak di antara mereka yang tetap menjalaninya dengan bangga.
Buat mereka, rasa tidak nyaman itu sepadan dengan nilai simbolik dan status yang di dapat.
Kalau kita, jangankan pakai cincin di leher, pakai masker agak lama aja kadang udah ngeluh, “Duh, pengap banget!”
Jadi salut banget sama keteguhan mereka menjaga tradisi.
Belajar dari Leher Panjang
Buat kita yang hidup jauh dari Thailand utara, tradisi ini bisa jadi pengingat penting bahwa konsep kecantikan itu nggak pernah tunggal.
Di satu tempat orang bisa mengidolakan kulit putih, di tempat lain justru kulit sawo matang yang di anggap memesona. Di Suku Karen, leher panjang jadi standar ideal.
Jadi, kalau kamu sering insecure lihat standar kecantikan di media sosial, coba ingat Suku Karen. Mereka nggak sibuk ngejar wajah glowing ala artis Korea, tapi punya definisi cantik yang benar-benar beda.
Dari sini kita bisa belajar: cantik itu soal perspektif, bukan patokan universal.
Jadi, Kalau Suatu Hari Kamu ke Thailand…
Kalau jalan-jalan ke Thailand utara, sempatkan mampir ke desa Suku Karen. Rasakan atmosfer budaya mereka, lihat langsung para perempuan berleher panjang, dan pahami cerita di balik cincin kuningan itu.
Jangan datang cuma sebagai penonton, tapi hadir sebagai tamu yang menghargai.
Karena pada akhirnya, tradisi mereka bukan cuma tontonan, tapi refleksi tentang bagaimana manusia mendefinisikan dirinya lewat simbol-simbol budaya.
Dan cincin kuningan di leher itu bukan sekadar benda, tapi bagian dari jiwa Suku Karen yang sudah hidup ratusan tahun.
Penutup: Panjang Leher, Panjang Cerita
Tradisi memanjangkan leher mungkin terlihat aneh bagi sebagian orang, tapi justru di situlah letak keindahannya.
Dunia ini kaya dengan cara unik manusia mengekspresikan diri. Dari tato Maori di Selandia Baru, gigi runcing di Papua, sampai leher panjang di Thailand semuanya punya makna yang dalam.
Jadi, lain kali kalau kamu lihat foto perempuan Karen dengan cincin kuningan di lehernya, jangan buru-buru menilai aneh. Ingat, di balik cincin itu ada cerita panjang tentang cinta, martabat, dan identitas.
Dan siapa tahu, kamu bisa menemukan inspirasi baru soal arti cantik yang lebih luas daripada sekadar standar media sosial.
Pengulas: Baso Marannu, owner pengembang website RAHASIA (https://ragamhiasindonesia.id ) saat ini sebagai peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Tinggalkan Balasan